Ceeva’s Blog

identifikasi pestisida puna ceeva

Posted on: 18 Januari 2010

IDENTIFIKASI PESTISIDA
(ACARA II)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk memperoleh hasil produk tanaman yang berkualitas kita harus melindungi tanaman dari organisme penganggu tanaman. Organisme pengganggu tanaman dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu biotic dan abiotik. Kadangkala ada beberapa jenis organisme pengganggu tanaman abiotik yang sulit untuk dikendalikan, untuk itu perlu diadakannya penggunaan pestisida. Pestisida merupakan bahan kimia yang berfungsi untuk mengendalikan, membasmi atau memberantas organisme pengganggu tanaman. Dalam praktikum kali ini kita membahas berbagai jenis pestisida.

B. Tujuan
Mengenal beragai macam jenis pestisida dan cara aplikasinya.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (“hama”) yang diberi akhiran cide (“pembasmi”).
Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikroba yang dianggap menggangu.Pestisida biasanya berbahaya, tapi tak selalu beracun. Dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai “racun”.
Tergantung dari sasarannya, pestisida dapat berupa:
 insektisida (serangga)
 fungisida (fungi/jamur)
 rodentisida (hewan pengerat/Rodentia)
 herbisida (gulma)
 akarisida (tungau)
 bakterisida (bakteri)
Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta dapat merusak ekosistem.
Dalam praktek, pestisida digunakan bersama-sama dengan bahan lain misalnya dicampur minyak untuk melarutkannya, air pengencer, tepung untuk mempermudah dalam pengenceran atau penyebaran dan penyemprotannya, bubuk yang dicampur sebagai pengencer (dalam formulasi dust), atraktan (misalnya bahan feromon) untuk pengumpan, bahan yang bersifat sinergis untuk penambah daya racun, dsb.
Karena pestisida merupakan bahan racun maka penggunaanya perlu kehati-hatian, dengan memperhatikan keamanan operator, bahan yang diberi pestisida dan lingkungan sekitar. Perhatikan petunjuk pemakaian yang tercantum dalam label dan peraturan-pearturan yang berkaitan dengan penggunaan bahan racun, khususnya pestisida.
Penggolongan menurut asal dan sifat kimia
A. Sintetik
1) Anorganik : garam-garam beracun seperti arsenat,flourida, tembaga sulfat dan garam merkuri.
2) Organik :
• Organo khlorin : DDT, BHC, Chlordane, Endrin.
• Heterosiklik : Kepone, mirex.
• Organofosfat : malathion, biothion.
• Karbamat : Furadan, Sevin.
• Dinitrofenol : Dinex.
• Thiosianat : lethane.
• Sulfonat, sulfida, sulfon.
• Lain-lain : methylbromida.

B. Hasil alam : Nikotinoida, Piretroida, Rotenoida
Cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga:
• Melalui dinding badan, kulit (kutikel)
• Melalui mulut dan saluran makanan (racun perut)
• Melalui jalan napas (spirakel) misalnya dengan fumigant
Jenis racun pestisida
Dari segi racunnya pestisida dapat dibedakan atas:
1. Racun sistemik, artinya dapat diserap melalui sistem organisme misalnya melalui akar atau daun kemudian diserap ke dalam jaringan tanaman yang akan bersentuhan atau dimakan oleh hama sehingga mengakibatkan keracunan bagi hama.
2. Racun kontak, langsung dapat menyerap melalui kulit pada saat pemberian insektisida atau dapat pula serangga target kemudian kena sisa insektisida (residu) insektisida beberapa waktu setelah penyemprotan.
Syarat syarat pestisida yang ekonomis:
1. Efektif – memiliki daya mematikan hama yang tinggi
2. Aman terhadap manusia terutama operator, juga hewan ternak dan komponen lingkungan lainnya, cukup selektif (tidak membunuh jasad yang bukan sasaran), kurang persisten, tidak menyebabkan biomagnifikasi.
3. Ekonomis, efektif, efisien : broad spectrum (dapat digunakan untuk berbagai hama), cukup spesifik, dan relatif tidak mahal.
Penggunaan pestisida berbahan dasar zat kimia sudah umum diterapkan. Memakai bahan kimia cara yang ampuh untuk membasmi berbagai jenis hama. Namun dapat juga menimbulkan bahaya, apalagi dengan takaran yang berlebihan. Kesuburan tanah jadi berkurang, serta pestisida kimia berbentuk cair itu bisa meresap di permukaan daun atau buah. Untuk mencegah pengaruh buruk itu, sebaiknya menggunakan pestisidab alami yang tidak berbahaya.
“Pestisida alami itu adalah bahan-bahan yang berasal dari alam. Ia memanfaatkan jenis tumbuhan yang memiliki kelebihan mengusir hama, penyakit, dan binatang.
Pestisida alam ini dikenal juga dengan pestisida nabati. Merupakan bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang bisa digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan. Pestisida nabati ini bisa berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh, dan bentuk lainnya.
Secara umum, pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas. Karena terbuat dari bahan alami atau nabati, maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam, sehingga tak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan, karena residu (sisa-sisa zat) mudah hilang.
Di Indonesia ada banyak jenis tumbuhan penghasil pestisida nabati. Bahan dasar pestisida alami ini bisa ditemui di beberapa jenis tumbuhan, dimana zat yang terkandung di masing-masing tumbuhan memiliki fungsi berbeda ketika berperan sebagai pestisida. Dalam fisiologi tumbuhan, ada beberapa jenis tumbuhan yang berpotensi untuk dijadikan bahan pestisida. Tumbuhan itu dikelompokkan menjadi % kelompok, yaitu :
1. Kelompok tumbuhan insektisida nabati. Merupakan kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama insekta. Bengkoang, serai, sirsak, dan srikaya diyakini bisa menanggulangi serangan serangga.
2. Kelompok tumbuhan antraktan atau pemikat. Di dalam tumbuhan ini ada suatu bahan kimia yang menyerupai sex pheromon pada serangga betina dan bertugas menarik serangga jantan, khususnya hama lalat buah dari jenis Bactrocera dorsalis. Tumbuhan yang bisa diambil manfaatnya, daun wangi (kemangi), dan selasih.
3. Kelompok tumbuhan rodentisida nabati, kelompok tumbuhan yang menghasilkan
pestisida pengendali hama rodentia. Tumbuh-tumbuhan ini terbagi jadi dua jenis, yaitu sebagai penekan kelahiran dan penekan populasi, yaitu meracuninya. Tumbuhan yang termasuk kelompok penekan kelahiran umumnya mengandung steroid. Sedangkan yang tergolong penekan populasi biasanya mengandung alkaloid. Jenis tumbuhan yang sering digunakan sebagai rodentisida nabati adalah gadung racun.
4. Kelompok tumbuhan moluskisida adalah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama moluska. Beberapa tanaman menimbulkan pengaruh moluskisida. Diantaranya daun sembung dan akar tuba.
5. Satu lagi, kelompok tumbuhan pestisida serba guna, dimana kelebihan kelompok ini tak hanya berfungsi untuk satu jenis. Misalnya insektisida saja, tapi juga berfungsi sebagai fungisida, bakterisida, moluskisida, dan nematisida. Tumbuhan yang bisa dimanfaatkan dari kelompok ini, yaitu jambu mete, lada, tembakau, dan cengkeh. Tembakau bisa jadi bahan pestisida alami karena dalam tembakau terdapat nikotin, dimana zat ini merupakan 0,3-5% dari berat kering tembakau yang berasal dari hasil biosintesis di akar dan diakumulasikan di daun. Nikotin merupakan racun syaraf yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis insektisida atau pengendali serangga.(Dani Adi Suryo.2008).

III. METODE PRAKTIKUM
Alat dan Bahan
1. Berbagai jenis pestisida yang tersedia di pasaran
2. Lembar pengamatan
3. Alat tulis

Cara Kerja
Mengindentifikasi tiap jenis pestisida meliputi: nama merek, bentuk, tanaman, bahan aktif dosis atau konsentrasi, cara penggunaan, dan keterangan yang relevan.

Mengklasifikasikan jenis pestisida yang telah diidentifikasi

IV. HASIL PENGAMATAN
NO Nama Merek Bahan Aktif / Komposisi Tanaman Gulma / Hama / Penyakit Dosis dan Volume semprot Keterangan
1, Ally Plus
(Herbisida) – Metil metsulfuran 0,7%
– Etil klorimuron 0,7%
– 2,4D garam natrium 75%
Bentuk WP Padi

Lahan tanpa tanaman

Persiapan tanam padi sawah tanpa olah tanah Aplikasi semprot :
Gulma berdaun lebar:
Monochoria vaginalis,
Marsilea crenata,
Jussiaea octovalis
Gulma berdaun sempit:
Teki,
Fimbristylis miliacea,
Cyperus difformis
Aplikasi tabur :
Gulma berdaun lebar :
Marsilea crenata

Gulma berdaun lebar :
Mikania cordata,
Ageratum conyzoides,
Croton hirtus,
Stacytarpheta indica,
Borreria alata

Gulma berdaun sempit:
Eleusine indica,
Paspalum commersonni

Gulma berdaun lebar :
Lymnocharis flava
Commelina diffusa
Cyperus difformis

Dosis : 320- 640 g/ha
Volume semprot : 180
– 240 l/ha
Dosis : 320- 640 g/ha

Dosis : 375- 750 g/ha
Volume semprot : 400 l/ha
Dosis: 375- 750 g/ha

Dosis : 750- 1500 g/ha

Dosis : 375- 750 g/ha

Dosis : 1500 g/ha

Semprotkan pada tanaman yang berumur 5- 21 hari.

Sebelum penyemprotan, keluarkan air dari petakan sampai macak- macak. Masukkan air ke dalam petakan 3 hari setelah penyemprotan.
Satu musim tanam disemprot satu kali
Taburkan dicampur dengan pupuk, pada saat tanaman berumur 6- 9 hari.
Masukkan ke dalam petakan segera setelah penaburan selama 3- 5 hari.
Aplikasi dilakukan satu kali pada saat penutupan gulma di lapangan mencapai 75%.
Aplikasi dilakukan satu kali pada saat penutupan gulma di lapangan mencapai 75%.
Aplikasi dilakukan pada saat 2 minggu setelah panen tanaman sebelumnya atau 2 minggu sebelum tabor benih
2. Besmor 200
(Pestisida) Polioksietilen alkil aril eter 207,4 g/l
Bentuk EC Dosis : 0,3- 0,6 ml/l Bahan perata dan perkat berwarna kuning terang berbentuk larutan dalam air yang dapat dicampur dengan pestisida lain dengan tujuan untuk meratakan penyebaran dan merekatkan larutan semprot pestisida.

Tujuan penggunaan : Meratakan penyebaran dan merekatkan larutan semprot pestisida pada permukaan daun atau bagian tanaman.
Waktu aplikasi: Disesuaikan dengan penyemprotan pestisida, waktu aplikasi terakhir adalah sebelum tanamn dipanen atau hasil pertanian dikonsumsi.
Cara aplikasi : Dicampurkan dengan larutan semprot pestisida
3. Regent
(Insektisida) Fipronil 0,3%
Bentuk butiran Padi

Bawang merah

Tebu Hama penggerak batang
(Tryporyza innotata)

Hama Orong- orong
(Gryllotalpa sp.)

Hama penggerak pupuk
(Scirpophaga nivella) Dosis : 10 kg/ha

Dosis : 10- 15 kg/ha

Dosis : 20- 25 kg/ha Ditabur merata di pertanaman atau dicampur pupuk pada umur 15- 20 hari setelah tanam.
Ditabur merata di pertanaman atau dicampur pupuk pada umur 1 minggu setelah tanam.
Ditabur merata pada tanaman berumur 2- 3 bulan.

Regent
berbentuk butiran berwarna ungu, berdaya racun kontak dan lambung untuk mengendalikan hama tanaman padi, tebu, dan bawang merah.
4, Marshal 25 ST
(Insektisida) Karbosulfan 25, 53%
Bentuk powder Padi gogo

Jagung

Kedelai Atherigona oryzae

Atherigona exigua

Agromyza spp. Dosis : 20 gr/ 1kg benih
Dosis : 20 gr/ 1kg benih
Dosis : 20 gr/ 1kg benih Marshal 25 St adalh insektisida karbamat yang bekerja sebagai racun lambung dan kontak yang sistemik berbentuk bubuk warna merah muda untuk mengendalikan hama lalat bibit pada tanaman padi gogo, jagung, dan kedelai dengan cara perlakuan benih. Marshal 25 ST tidak boleh dicampur dan digunakan dengan pestisida lain yang bersifat asam.
5.
Dithanae M- 45
(Fungisida) Mankozeb 80%
Bentuk tepung Apel

Bawang

Bawang merah

Bawang putih

Cabai

Cengkeh

Kakao

Kacang tanah

Karet

Kedelai

Kalapa

Kentang

Kina

Kopi

Padi

Vanili

Petsal

rosela

teh

tembakau

tomat

Penyakit becak daun
Marsonina coro naria
Penyakit becak ungu
Alternaria alii
Penyakit becak ungu
Alternaria porri
Penyakit becak ungu
Alternaria porri
Penyakit becak daun
Carcospora capuci
Penyakit becak daun
Cylindrocladium quinqueseptatum pada pembibitan
Penyakit busuk buah
Phytophthora balmivora
Penyakit becak daun
Carcospora arachidilda
dan C. Personada

Penyakit gugur daun pada pembibitan
Coliefrotrichum gloesprorioides

Penyakit karat
Phakopsora pachyrhizl

Penyakit becak daun
Fusarium sp.
Gloeeosporium sp.
Dan Pestalotia sp

Penyakit becak daun
Fusarium sp.
Gloeeosporium sp.
Dan Pestalotia sp

Penyakit mofog
Rhizoctonia solani
Penyakit karat daun
Hemileia vastatrix
Penyakit becak daun
Cercospora oryzae
Penyakit busuk batang
Nectria vanilla

Penyakit becak daun
Altenaria orassicae

Penyakit busuk kaki
Phytophthora parasitila
Penyakit cacar daun
Exobasidium vexans

Penyakit rebah batang -Phythophthora parasitica var,
-Niconanae
-Rhizoctonia solani
-Pythium spp.

Penyakit busuk daun
Phythopthora infestans
Dosis : 1,5- 3 gr/l

Dosis : 1- 2 kg/ha
Volume semprot : 500- 1000 l larutan/ha
Dosis : 3- 6 gr/l

Dosis : 3- 6 gr/l

Dosis : 3- 6 gr/l

Dosis : 1- 1,8 kg/ha
Volume semprot : 500-900liter larutan/ha
Dosis : 0,8- 1,2 kg/ha
Volume semprot : 500-900liter larutan/ ha
Dosis : 1- 2 kg/ha
Volume semprot : 500-900liter larutan/ha
Dosis :1,5- 3 gr/l

Dosis : 2 gr/l air
Volume semprot : 100-600liter larutan/ha

Dosis : 1,2- 2,4 kg/ha
Volume semprot : 400-1000liter larutan/ha
Dosis : 4,5- 6,3 kg/ha
Volume semprot : 23-35liter larutan/100 m2
Dosis : 0,3- 0,6 kg/ha
Volume semprot : 100-600liter larutan/100m2
Dosis : 1,5- 3 gr/l

Dosis : 0,9 kg/ha
Volume semprot : 100-600liter lar/100m2
Dosis : 1- 2 kg/ha
Volume semprot : 500-900literlar/ha
Dosis : 1,5- 2,7 kg/ha
Volume semprot : 500-900literlar/ha
Dosis : 0,42- 0,84 kg/ha
Volume semprot : 300-400literlar/ha
Pada persemaian :
Dosis: 45-70 gr/100m2
Volume semprot : 30-50 liter lar/ha
Pada lapangan :
Dosis: 1,6-3,2 kg/ha
30-50 liter lar/ha
Dosis : 1,6-2,4kg/ha
Volume semprot : 400- 1000liter lar/ha Fungisida protektif berbentuk tepung berwarna kuning keabu- abuan yang dapat disuspensikan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman :
1. Apel
2. Bawang
3. Bawang merah
4. Bawang putih
5. Cabai
6. Cengkeh
7. Kakao
8. Kacang tanah
9. KaretKedelai
10. Kelapa
11. Kentang
12. Kina
13. Kopi
14. Padi
15. Vanili
16. Petsal
17. Rosela
18. Teh
19. Tembakau
20. Tomat
Petunjuk pemakaian : Semprotan harus diarahkan kepada semua bagian tanaman secara merata. Penambahan 2- 4 ml ml LatronTM 750 SZ per 10liter larutan sangat dianjurkan untuk mendapatkan hasil pengendalian lebih maksimal
6. Basmilang 480 AS
(Herbisida) Isopropilamina glifosat 480 gr/l
(setara dengan glifosat 356 gr/l ) Karet (TBM)
Kelapa sawit (TBM)
Lahan tanpa tanaman
Padi sawah (TOT) Alang- alang dan gulma di pertanaman karet, kelapa sawit, lahan tanpa tanaman, dan padi sawah
7. Dragon 25 EC
(Insektisida) Lambda cyhalothrin 25gr/l Cabai Hama ulat grayak
Spodoptera litura Dosis : 0,5- 1 ml/t
8. Agrept 20 WP
(Bakterisida) Sterptomisin sulfat 20% Tomat

Tembakau
Layu bakteri
Pseudomonas solanecearum

Layu bakteri
Batang Berlubang (Erulinia carotovora) Konsentrasi : 1- 2 gr/l air

Konsentrasi : 2- 2,5 gr/l air Cara dan waktu : Penyemprotan dilakukan apabila terlihat gejala serangan dini/ mulai umur 21 hari setelah tanam, dilanjutkan sampai 5- 8 kali tergantung perkembangan penyakit dengan selang waktu 7hari.
Cara dan waktu : Penyiraman dilakukan 5 kali yaitu lahan sebelum tanam dilanjutkan pada umur 7, 14, 21, dan 28 hari sebanyak 50ml larutan/ pohon
9. Bayer 75 WP
(Insektisida) Trodikarb 75% Bawang merah

Cabai

Jagung

Kakao

Kapas

Kedelai

Kubis

Padi gogo

Tembakau
Ulat grayak
(Spodoptera exigua)

Kutu daun (Myzas periscae)

Lalat bibit
Astherigona sp
Penghisap buah
Helopeltis antonii
Penggerak buah
Earlas sp.
Penggerak pucuk
Heliothis sp.
Lalat bibit : Agromyza sp.
Penggulung daun : Lamprosema indicate
Perusak daun : Phaedonia inclusa, Plusta chalcites
Penghisap polong : Riptortus linearis,
Kepik hijau :
Nezara viridula
Ulat grayak :
Spodoptera litura
Perusak daun : Plutella xylostella, Crocidolomia binotallis
Lalat bibit
Atherigona sp.

Penggerak pucuk :
Hellothis sp.

Ulat grayak : Spodoptera linra Dosis : 1- 2gr/l
Penyemprotan volume tinggi
Dosis : 1- 2gr/l
Penyemprotan volume tinggi
Dosis : 10- 20 gr/l
Perlakuan benih
Dosis : 0,5 kg/ha
Penyemprotan volume tinggi.

Dosis : 1- 2 kg
Penyemprotan volume tinggi

Dosis : 10- 20 gr/kg benih
Volume semprot : 2- 3 gr/l
Penyemprotan volume tinggi
Dosis : 1- 1,5 kg/ ha
Penyemprotan volume tinggi
Dosis : 10- 20 gr/ kg benih
Dosis : 0,5- 1 kg/ha
Penyemprotan volume tinggi
Insektisida racun kontak dan lambung berbentuk tepung berwarna putih yang dapat disuspensikan, digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman:
1. Bawang merah
2. Cabai
3. Jagung
4. Kako
5. Kapas
6. Kedelai
7. Kubis
8. Padi gogo
9. Tembakau
10. Atonik Natrium ortho- nitrofenol 2,0 gr/l
Natrium para-nitrofenol 3,0 gr/l
Natrium 2-4 dinitrofenol 0,5 gr/l
Natrium 5- nitrogualakol 1,0 gr/l
Cabai merah

Padi

-Untuk meningkatkan jumlah bobot buah
-Menghambat dan menekan

-Menurunkan kadar
-Menghambat hawar upih daun
Konsentrasi formulasi dalam ml/l :
Untuk meningkatkan jumlah bobot buah = 1- 1,5
Untuk menghambat dan menekan hama : 1- 1,5
Konsentrasi formulasi dalam ml/l :
Untuk menurunkan kadar : 1- 1,5
Untuk menhambat hawar upih daun : 1- 1,5 Zat pengatur tumbuh tanaman (ZPT) untuk meningkatkan jumlah bobot buah :
1. Cabai merah
2. Padi
3. Tomat

11. Saromyl 35 SD
(Fungisida) Metalaksil 35% Benih Jagung

Tembakau Penyakit Buai (Peronosclesospora maydis)

Penyakit Lanas ( Black shank) Konsentrasi formulasi :
1,25-2,5 g/kg benih

2g/l Cara aplikasi dan volume semprotan :
Larutkan dalam 8 ml air, campur dengan 1kg benih jagung.
Waktu dan Interval aplikasi:
Sebelum benih ditanam dicampur dengan merata, dikeringkan, benih siap ditanam.
Cara aplikasi dan Volume semprotan :
Penyiraman pada lubang tanam 50ml/lubang tanam.
Waktu dan Interval aplikasi:
Sehari sebelum pindah tanam
12. Furadan
(Insektisida/Nematisida)
Karbofuran 3%
Padi sawah

Padi gogo
Kentang

Tomat

Kapas

Tembakau

Cengkeh

Jeruk

Lada

The

Tebu

Penggerek batang dan lalat daun
Wereng hijau
Ganjur

Lundi/uret
Nematoda bintil akar

Nematoda bintil akar

Lundi/uret

Perusak daun

Ulat grayak

Nematoda bintil akar

Penggerek batang

Nematoda

Nematode bintil akar
Nematode

Penggerek batang
4 kg/ 25 kg benih

17 kg/ ha

17 kg/ ha
17 kg/ ha
2-4 gr/lubang
(60-100 kg/ ha)
2-4 gr/lubang
(60-100 kg/ ha)
1,5-2gr/lubang
(60-75 kg/ha)

10-15 gr/m2
10-15gr/m2
2gr/lubang
(30-40 kg/ha)
100gr/tanaman

34kg/ha

30-50gr/tanaman
40-60kg/ha
25kg/ha atau 30 butir/tanaman Waktu aplikasi:
Penaburan di pesemaian.
Penaburan pada tanah.
Penaburan pada tanah.

Penaburan pada tanah.
Penaburan pada tanah atau di lubang tanam.

Penaburan pada tanah atau di lubang tanam.
Penaburan pada tanah atau di lubang tanam.

Penaburan di pesemaian atau dilubang tanam.

Penaburan pada tanah di sekeliling tanaman dengan jarak 20-30 cm dari batang.
Dicampur dengan tanah sedalam 10-15cm.
Penaburan pada lubang tanam.
Penaburan di persemaian
Penaburan pada tanah atau penyuntikan tepat 25cm di bawah sendi daun pertama tanaman terserang.
13. Metsulindo 20WP (herbisida) Metal metsufuron 20% Padi Gulma berdaun sempit

Gulma berdaun lebar 10-20 g/ha
Penyemprotan volume tinggi 250L/ha
7-14 hari setelah penanaman.

14. Larvin (insektisida) Tiodikarb 75% Bawang merah
Cabai

Jagung

Kakao

Kapas

Kedelai

Kubis

Padi gogo

Tembakau
Penyemptoyan volume tinggi
Penyemptoyan volume tinggi
Perlakuan benih
Penyemptoyan volume tinggi
Penyemptoyan volume tinggi
Perlakuan benih
Penyemptoyan volume tinggi
Perlakuan benih
Penyemptoyan volume tinggi

V. PEMBAHASAN
Pestisida adalah bahan kimia yang berfungsi untuk menolak, mengurangi, atau membasmi organisme pengganggu tanaman. Apabila berbagai cara yang telah dilakukan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman sudah dilakukan namun belum juga menunjukkan hasil yang baik, biasanya petani atau penanam menggunakan pestisida, bahan kimia yang sangat ampuh untuk mengendalikan organism pengganggu tanaman. Dalam praktikum kali ini kita membahas berbagai macam jenis pestisida. Dari data pengamatan diatas, diketahui kurang lebih sekitar 14 jenis pestisida berada di dalam laboraturium budidaya. Masing – masing dari jenis pestisida memiliki kandungan dan bahan aktif yang berbeda sehingga masing – masing memiliki manfaat yang berbeda pula. Selain itu bentuk pestisida tidaklah sama, ada yang dalam bentuk cair, bubuk atau padat sehingga berbeda pula cara penggunaannya. Dalam penggunaan pestisida , perlu diperhatikan dosis dan konsentrasinya. Agar tidak terjadi pemakaian secara berlebihan. Penggunaan jenis pestisida tergantung pada organisme sasaran. Sehingga dalam penggunaan jenis pestisida sangat perlu diperhatikan organisme pengganggu tanaman dan jenis tanamannya, agar tepat sasaran.
VI. KESIMPULAN
– Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk menolak mengendalikan, memikat, atau membasmi oraganisme penggangu.
– Jenis-jenis pestisida adalah insektisida, fungisida, rodentisida, herbisida, akarisida, dan bakterisida.
– Pestisida diformulasikan dalam berbagai bentuk yaitu cair, tepung atau powder, fumigansia.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Ekha, Isvasta.1988. Dilems Pestisida Tragedi Revolusi Hijau. Kanisius: Yogyakarta
Sudarmo, Subiakto. 1991. Pestisida. Kanisius: Yogyakarta.
Wardojo, S. 1977. Aspek Pestisida di Indonesia. Lembaga Pusat Penelitian Pertanian: Bogor.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Halaman

Januari 2010
S S R K J S M
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Komentar Terakhir

ceeva on Reaksi maiLLard puna ceev…
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: