Ceeva’s Blog

ga ada sesuatu yang sempuRna, sekarang atau kapanpun…tapi ketidaksempuRnaan akan semakin buRuk ketika terus di coreng moReng dengan hitam.
Keindahan hany kamuflase kehidupan..
kebahagiaan hanya tipuan…
apaLagi cinta hanya momok menjijikan yang mendatangkan senyuman sesaat dan derita sLamanya…
hidup hanya sebuang tong kosong yang nyaringbunyinya,,,,
hidup di peruntukkan hanya untuk perjuangan dan ketuLusan, dan kebahagiaan hanya noL besar

ga ada sesuatu yang sempuRna, sekarang atau kapanpun…tapi ketidaksempuRnaan akan semakin buRuk ketika terus di coreng moReng dengan hitam.
Keindahan hany kamuflase kehidupan..
kebahagiaan hanya tipuan…
apaLagi cinta hanya momok menjijikan yang mendatangkan senyuman sesaat dan derita sLamanya…
hidup hanya sebuang tong kosong yang nyaringbunyinya,,,,
hidup di peruntukkan hanya untuk perjuangan dan ketuLusan, dan kebahagiaan hanya noL besar

TUGAS TERSTRUKTUR
PANGAN DAN GIZI
Timbulnya Masalah Pangan dan Gizi Kurang di wilayah Perkotaan dan Desa serta Pengaruhnya terhadap Kesehatan

Disusun oleh :
1. M. Yogi (A1M008013)
2. Cindy Faulin S. (A1M008027)
3. Nindya Ratri P . (A1M008041)
4. Bunga Beta Putri A. P. (A1M008048)
5. Nur Arifah Qurota A. (A1M008054)
6. Anggi Priyandari (A1M008057)
7. Anggitasari (A1M008058)
8. Fitri Aprianti (A1M008079)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
PURWOKERTO
2009

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Illahi Robbi atas terselesaikannya tugas terstruktur membuat makalah tentang kekurangan pangan dan gizi ini. Kami mengucapkan terima kasih yang begitu besar kepada semua pihak yang telah mendukung dengan waktu dan tenaga dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini bertujuan untuk membahas dan menggali lebih dalam tentang fenomena kekurangan pangan dan gizi yang sudah lama menjamur khususnya di negeri kita tercinta, Indonesia. Negeri yang terkenal dengan negeri gemah ripah loh jinawi ini justru mengalami kekurangan pangan yang mengakibatkan buruknya gizi, tentunya hal ini sangatlah pantas untuk kami angkat dalam makalah ini. Selainitu sudah sangat kami upayakan agar di dalamnya terdapat pemahaman tentang pengaruh kekurangan pangan dan gizi terhadap kesehatan. Sehingga kami harapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Meskipun sudah kami usahakan menyusun makalah yang terbaik tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak yang berkepentingan.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
Bab 1 PENDAHULUAN
Bab 2 ISI
A. PENGERTIAN
B. MASALAH PANGAN DAN GIZI
C. MASALAH PANGAN DAN GIZ KURANG
D. PENYEBAB TIMBULNYA MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG
E. AKIBAT MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG
F. SOLUSI MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG

BAB I . PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Pangan adalah hal yang sangat penting untuk kehidupan. Supaya sehat dan cukup
gizi, kita harus memperoleh pangan yang cukup beragam, berkualitas serta aman. Tanpa zat gizi yang memadai, anak–anak tidak dapat mengembangkan potensi mereka secara penuh dan orang dewasa akan mengalami kesulitan dalam memelihara dan mengembangkan kemampuan mereka.
Pangan memberi kita energi yang kita butuhkan untuk pertumbuhan, kegiatan fisik dan fungsi dasar tubuh (bernapas, berpikir, mengatur suhu, sirkulasi darah dan pencernaan). Pangan juga menyediakan untuk kita bahan–bahan yang diperlukan untuk membangun, memelihara dan meningkatkan kemampuan tubuh melawan penyakit.
Fungsi yang beragam itu dimungkinkan oleh peranan zat gizi yang terkandung dalam
pangan. Jenis zat gizi dalam pangan adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Semua makanan mengandung satu atau lebih zat gizi tersebut dalam jumlah yang
beragam. Setiap jenis zat gizi mempunyai fungsi khusus. Inilah sebabnya pangan penting bagi kesehatan. Kita semua membutuhkan zat gizi, yang disediakan oleh ketersediaan pangan, untuk semua proses tubuh kita.
Namun sangat disayangkan kondisi sulit yang diderita oleh beberapa Negara khususnya Negara tercinta kita, Indonesia, mengakibatkan meningkatnya harga pangan, menurunnya bantuan pangan internasional dan bertambahnya pengangguran, serta rendahnya pendapatan. Hal ini menyebabkan rendahnya ketersediaan pangan untuk kalangan tertentu. Rendahnya daya beli juga akan memicu terjadinya kekurangan pangan untuk kalangan tertentu. Masalah rawan pangan ibarat bola liar yang sulit dikontrol. Di negara kita sendiri sebagai negara agraris dan dikenal memiliki tanah yang subur, ternyata sebagian penduduknya mengalami kelaparan. Hal yang satu ini menjadi problem besar sejak Indonesia merdeka 56 tahun lalu. Lagu Kolam Susu Koes Plus yang menggambarkan betapa suburnya negara kita sehingga tongkat kayu dan batu pun tumbuh menjadi tanaman, menjadi kontradiktif dengan jeritan kelaparan penduduk yang datang dari berbagai daerah. Kurang pangan dapat mempengaruhi kesehatan tubuh yang berujung pada kematian. Hal ini menunjukkan rapuhnya ketahanan pangan yang selama ini di dengung – dengungkan oleh pemerintah. Kurang pangan bukan hanya di alami oleh kalangan bawah atau masyarakat desa saja. Masyarakat menengah ke atas dan masyarakat kota pun bisa mengalami kekurangan pangan apabila terjadi kondisi yang tidak diinginkan seperti banjir dan gempa.
Kekurangan pangan secara otomatis akan memunculkan masalah baru yaitu masalah kekurangan gizi. Masalah gizi kurang dikenal sebagai masalah yang multikompleks karena banyak sekali factor penyebabnya. Gizi kurang terjadi karena defisiensi atau ketidakseimbangan energi/zat gizi. Gizi, merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumberdaya manusia. Sehingga kekurangan gizi juga dapat berpengaruh pada kesehatan tubuh. Masalah kurang gizi merupakan salah satu sindrom kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan juga menyangkut aspek pengetahuan serta perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat. Baik masalah kekurangan pangan maupun kekurangan gizi, keduanya memunculkan dampak yang buruk. Kurang pangan dapat meningkatkan angka kematian tiap tahunnya sedangkan kurang gizi bukan hanya buruk bagi kesehatan tubuh tetapi juga buruk untuk perkembangan IQ anak. Sehingga mau tidak mau masalah kurang gizi ini menjadi momok yang menakutkan bukan hanya pada saat ini tetapi berpengaruh juga pada masa depan, karena Bangsa Indonesia terancam kehilangan generasi Bangsa yang cerdas. Kekurangan gizi bukan hanya terjadi pada orang – orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, orang – orang kota yang hidupnya serba berkecukupan dapat mengalaminya apabila memiliki pengetahuan yang sangat minim tentang gizi.

BAB II
ISI

A. PENGERTIAN
Pangan
Menurut UU Pangan No.7 Tahun 1996, Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang di peruntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan yang digunakan dalam proses pengolahan dan atau pembuatan makanan dan minuman.
Gizi Pangan
Menurut UU Pangan No.7 Tahun 1996, Gizi pangan adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vtamin, dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.
Berdasarkan pengertian pangan dan gizi pangan diatas, jika membahas pangan pasti erat kaitannya gizi, begitu pula sebaliknya. Karena antara pangan dan gizi pangan terdapat suatu keterkaitan satu sama lain yang tidak bisa dipisahkan (saling berhubungan).

B. MASALAH PANGAN DAN GIZI
Pangan adalah hal yang sangat penting untuk kehidupan. Supaya sehat dan cukup gizi, kita harus memperoleh pangan yang cukup beragam, berkualitas serta aman. Tanpa zat gizi yang memadai, anak–anak tidak dapat mengembangkan potensi mereka secara penuh, dan orang dewasa akan mengalami kesulitan dalam memelihara dan mengembangkan kemampuan mereka. Pangan memberi kita energi yang kita butuhkan untuk pertumbuhan, kegiatan fisik dan fungsi dasar tubuh (bernapas, berpikir, mengatur suhu, sirkulasi darah dan pencernaan). Pangan juga menyediakan untuk kita bahan–bahan yang diperlukan untuk membangun, memelihara dan meningkatkan kemampuan tubuh melawan penyakit. Fungsi yang beragam itu dimungkinkan oleh peranan zat gizi yang terkandung dalam pangan. Jenis zat gizi dalam pangan adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Semua makanan mengandung satu atau lebih zat gizi tersebut dalam jumlah yang beragam. Setiap jenis zat gizi mempunyai fungsi khusus. Inilah sebabnya keragaman pangan penting bagi kesehatan. Kita semua membutuhkan zat gizi, yang disediakan oleh beragam pangan, untuk semua proses tubuh kita. Terlalu banyak dan kekurangan pangan atau ketidakseimbangan dalam mengkonsumsi pangan dapat membuat kesehatan memburuk dan menyebabkan tubuh beresiko terhadap penyakit kronis seperti obesitas (kegemukan), penyakit jantung, diabetes, dan penyakit malnutisi. Gizi yang baik juga tergantung pada usaha menjaga pangan supaya aman dimakan dan mempertahankan kualitas gizinya.
Masalah gizi dan hal-hal yang berhubungan dengan perbaikan gizi banyak berkaitan dengan berbagai masalah, terutama pengadaan dan penyediaan pangan. Di bagian dunia yang sudah berkembang, sebagian besar penduduk mengalami berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh kelebihan berat badan dan obesitas. Sedangkan di bagian lain, miskin gizi buruk masih merupakan masalah utama. Masalah gizi terjadi karena syarat pemberian makanan tidak terpenuhi, baik kurang maupun lebih dari pada yang dibutuhkan untuk umur, jenis kelamin dan kondisi-kondisi tertentu seperti banyaknya aktifitas, suhu lingkungan, maka akan terjadi keadaan malnutrisi. Keadaan gizi kurang (undernutrition) maupun gizi lebih (overnutrition) tidak selalu disebabkan oleh masukan makanan yang tidak cukup atau berlebihan. Keadaan demikian dapat juga terjadi oleh kelainan dalam tubuh sendiri seperti ganggguan pencernaan, absorbsi, utilisasi, ekskresi dan sebagainya. Gizi buruk tidak hanya berdampak pada kesehatan seseorang secara pribadi, tapi juga mengurangi kemampuan masyarakat untuk keluar dari kemiskinan. Gizi buruk mengurangi kemampuan seseorang untuk bekerja dan juga mengurangi kemampuan anak-anak untuk belajar disekolah – sering tidak kesekolah karena sakit – mengurangi tingkat kesehatan dan menjadi terlalu lelah untuk bekerja dan belajar dengan baik. Diperkirakan bahwa gizi buruk dapat menghabiskan biaya suatu Negara sebanyak 2-3% dari produk domestic bruto (“Repositioning Nutrition as Central to Development: A Strategy for Large-Scale Action,” published by the World Bank in 2006).
C. MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG
Salah satu akibat kurang pangan adalah kelaparan. Kelaparan dapat mengakibatkan kurang gizi. Masyarakat mengenal kurang gizi sebagai busung lapar, meskipun dalam kesehatan dibedakan dalam kwashiorkor, maramus, kwashiorkor-marasmus atau hanya kurang gizi.
Di Indonesia, salah satu Negara di Asia Tenggara, walaupun tingkat kemiskinan mulai berkurang, namun tetap ada daerah-daerah dimana kurang gizi masih menjadi masalah utama. Gizi kurang terjadi karena defisiensi atau ketidakseimbangan energi/zat gizi. Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah utama gizi kurang yaitu kurang gizi makro dan kurang gizi mikro. Masalah gizi makro adalah masalah gizi yang utamanya disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan energi dan protein. Kekurangan zat gizi makro umumnya disertai dengan kekurangan zat gizi mikro.

Meskipun kemajuan yang berarti telah dicapai, jutaan orang masih menderita kelaparan dan kekurangan gizi dewasa ini
Populasi penduduk dunia tumbuh sangat cepat. Pada tahun 1999, PerserikatanBangsa–Bangsa (PBB) memperkirakan jumlah penduduk dunia lebih dari 6 milyar. Diperkirakan akan ada tambahan sebanyak 2 milyar dalam kurun waktu 25 tahun mendatang, yang kebanyakan akan terjadi di negara yang sekarang ini menghadapi masalah paling besar dalam hal penyediaan pangan bagi penduduknya. Meskipun populasi dunia meningkat secara dramatis (lebih dari 70 persen) selama 30 tahun terakhir, kemajuan pesat telah dicapai dalam hal peningkatan kuantitas dan kualitas persediaan pangan global dan perbaikan status gizi penduduk. Di negara berkembang, yang populasi penduduknya meningkat hampir dua kali lipat selama periode ini, jumlah penduduk yang mengalami kekurangan gizi kronis telah dapat dikurangi menjadi setengahnya (dari 36 menjadi 18 persen pada tahun 1995–1997). Namun demikian, 790 juta orang – satu dari lima orang di negara berkembang masih tidak memperoleh cukup pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi dasar sehari–hari; meskipun beberapa negara telah mencapai kemajuan pesat, kelaparan terus meningkat di bagian dunia yang lain, khususnya di negara yang paling mengalami kesulitan dalam hal penyediaan pangan bagi rakyatnya. Akses terhadap penyediaan beranekaragam pangan yang berkualitas dalam jumlah yang cukup dan aman merupakan masalah serius di banyak negara, bahkan di negara yang persediaan pangannya mencukupi di tingkat nasional.

D. PENYEBAB TIMBULNYA MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG
Penyebab tingginya angka kurang gizi di Indonesia cukup kompleks. Terkadang masalahnya adalah kurangnya makanan yang tersedia atau pilihan untuk tidak mengkonsumsi variasi makanan dengan nilai gizi yang cukup.
Faktor yang mempengaruhi masalah pangan :
1. Goncangan Pasar Dunia
2. Daya saing dan Kebijakan perdagangan
3. Goncangan variabel makro ekonomi (nilai tukar, suku bunga, inflasi dll)
4. Gangguan produksi : (a) aspek fisik (kekeringan, banjir, gempa, hama dan penyakit dll), (b) aspek ekonomi (ketersediaan dan harga sarana produksi,
produk substitusi),
5. Masalah politik, keamanan dan konflik sosial
6. Gangguan permintaan (daya beli, produk substitusi, industri yang
menggunakan bahan baku pangan)
7. Buffer stock Management
8. Distribusi pangan
9. Struktur pasar
10.Fluktuasi musiman produksi dan komsumsi
11.Spekulasi perdagangan
12.Kualitas produk pangan
13.Sistem infomasi
14.Kelembagaan dan koordinasi
Krisis Pangan dan Ekonomi Tingkatkan Jumlah Penduduk Kelaparan
Krisis pangan di negara-negara miskin ditambah dengan krisis ekonomi global menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk yang kelaparan, dengan lebih dari satu miliar orang kekurangan pangan tahun ini, FAO memperkirakan 1,02 miliar orang kurang makan di seluruh dunia pada 2009. “Ini merupakan lebih banyak orang yang kelaparan sejak 1970.
Jumlah orang kelaparan mencapai puncaknya satu miliar untuk pertama kali sejak 1970, tetapi proporsi lebih kecil dari jumlah penduduk dunia, yang sekarang hampir tujuh miliar jiwa dibandingkan dengan kurang empat miliar empat dasawarsa lalu.
Penduduk terbesar yang kurang makan adalah di wilayah Asia-Pasifik yaitu 642 juta orang disusul Sub-Sahara Afrika 265 juta, Amerika Latin 53 juta orang. Sekitar 15 juta orang mengalami kelaparan di dunia maju.
Krisis keuangan menyebabkan menurunnya bantuan asing dan investasi di negara-negara miskin serta pengiriman uang dari keluarga yang bekerja di negara-negara kaya,

Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk. Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu :
(1) Kurangnya asupan gizi dari makanan.
Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi Kadang kadang bencana alam, perang, maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi.
(2) Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi.
Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik. Menjadi penyebab terpenting kedua kekurangan gizi, apalagi di negara negara terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan kebersihan / personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit tertentu, khususnya infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat tinggi. Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi.
Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk yaitu:
(1) Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat;
(2) Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan anak;
(3) Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 faktor penyebab gizi buruk pada balita, yaitu:
(1) Keluarga miskin;
(2) Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak;
(3) Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernapasan dan diare.

Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan kedalam tiga bidang yaitu:
(a) produksi pangan dan distribusi pangan,
Enam kelompok faktor dibawah bidang produksi dan distribusi pangan yang terdiri dari: tenaga kerja, pertanian, ekonomi, demografi, budaya, dan kesehatan dapat mengakibatkan penurunan, ketidakseimbangan atau kelebihan konsumsi zat gizi. Faktor demografi dan social ekonomi sangat menentukan perubahan konsumsi makanan
(b) pemanfaatan pangan.
Pola makan yang salah
Suatu studi “positive deviance” mempelajari mengapa dari sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi buruk, padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk.
Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan anak anak daging, telur, santan dll) , hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup
Faktor penyebab: (1) Faktor sosial, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak. (2) Faktor kemiskinan, rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar sering kali tidak bisa dipenuhi. (3) Laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan. (4) Infeksi, disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik

Penyebab gizi buruk di daerah pedesaan atau daerah miskin lainnya sering disebut malnutrisi primer, yang disebabkan karena masalah ekonomi dan rendahnya pengetahuan. Masyarakat di daerah desa umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan sebagian lagi memiliki kesadaran yang rendah tentang pentingnya variasi makanan serta pentingnya asupan gizi yang pas (gizi seimbang), terutama untuk anak-anak. Nasi adalah makanan pokok dan didaerah yang miskin, masyarakat sangat tergantung, lebih mengutamakan rasa kenyang namun menu kurang variatif untuk kecukupan gizi. Di daerah lainnya, bahkan nasi juga jarang didapat, perubahan iklim, cuaca yang sulit diprediksi dan bencana alam mempengaruhi pertumbuhan tanaman, dan banyak keluarga yang tidak mampu membeli makanan jika tanaman mereka, satu-satunya sumber pendapatan mereka – gagal. Sanitasi yang buruk juga merupakan masalah umum di daerah dengan ketersediaan air yang terbatas dan berpengaruh terhadap infeksi usus dan kurang gizi – dapat menyebabkan diare.
Penyebab utama kasus gizi buruk di kota tampaknya bukan karena masalah ekonomi atau kurang pengetahuan. Kasus gizi buruk khususnya pada anak di kota besar biasanya didominasi oleh malnutrisi sekunder. Malnutrisi sekunder adalah gangguan peningkatan berat badan atau gagal tumbuh (failure to thrive) yang disebabkan karena karena adanya gangguan di sistem tubuh anak. Selain itu, masalah kurang gizi di kota juga karena pola makan dan gaya hidup yang salah. Banyak masyarakat menengah atas yang melakukan pola makan yang salah seperti bulimia dan anorexia, dalam rangka untuk menjaga penampilannya. Selain itu, sebagian masyarakat kota yang terlalu disibukkan dengan berbagai aktivitas sehingga mereka cenderung menyukai makanan cepat saji (fast food), yang biasanya kurang aman dikonsumsi.

E. BEBERAPA TANDA DAN GEJALA GANGGUAN GIZI
1. Malnutrisi Primer
Gejala klinis Kurang Energi Protein (KEP) yaitu: Pertumbuhan linier mengurang atau terhenti; Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, dan ada kalanya beratnya bahkan menurun; Ukuran lingkar lengan atas menurun; Maturasi tulang terhambat; Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun; Tebal lipat kulit normal atau mengurang; Anemia ringan; Aktivitas dan perhatian berkurang; Kelainan kulit maupun rambut jarang ditemukan, tetapi adakalanya dijumpai.
Kwashiorkor disebabkan karena kurang protein dalam pangan, sedang zat pangan pemberi tenaga . Gejala klinis Kwashiorkor, yaitu: Penampilannya seperti anak yang gemuk (suger baby) jika dietnya mengandung cukup energy disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh lainnya, terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi; Pertumbuhan terganggu, berat badan dibawah 80% dari baku Harvard persentil 50 walaupun terdapat edema, begitu pula tinggi badannya terutama jika KEP sudah berlangsung lama; Perubahan mental sangat mencolok, banyak menangis, dan stadium lanjut mereka sangat apatis; Edema baik yang ringan maupun yang berat ditemukan pada sebagian besar penderita kwashiorkor; Atrofi otot sehingga penderita tampak selalu lemah dan berbaring terus menerus; Gejala saluran pencernaan seperti anoreksia yang berat penderita menolak segala macam makanan, hingga adakalanya makanan hanya dapat diberikan melalui sonde lambung. Diare tampak pada sebagian besar penderita, dengan feses yang cair dan banyak mengandung asam laktat karena mengurangnya produksi lactase dan enzim disaharidase lain; rambut yang mudah dicabut sedangkan pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala yang kusam, kering, halus, jarang, dan berubah warnanya.rambut alispun menunjukkan perubahan demikian, akan tetapi tidak demikian dengan rambut matanya yang justru memanjang; Perubahan kulit yang khas bagi penderita kwashiorkor. Kelainan kulit berupa titik-titik merah yang menyerupai petechia, berpadu dengan bercak yang lambat laun menghitam. Setelah bercak hitam mengelupas, maka terdapat bagian-bagian merah yang dikelilingi oleh batas-batas yang masih hitam; Hati biasanya membesar; Anemia ringan.
Marasmik/ marasmus adalah bentuk malnutrisi primer karena kekurangan karbohidrat. Gejala klinis Marasmus yaitu: Muka seorang penderita marasmus menunjukkan wajah seorang tua. Anak terlihat sangat kurus (vel over been) karena hilangnya sebagian besar lemak dan otot-ototnya; Perubahan mental yaitu anak mudah menangis, juga setelah mendapat makan oleh sebab masih merasa lapar. Kesadaran yang menurun (apatis) terdapat pada penderita marasmus yang berat; Kulit biasanya kering, dingin, dan mengendor disebabkan kehilangan banyak lemak dibawah kulit dan otot-ototnya; Walaupun tidak kering seperti penderita kwashiorkor,adakalanya tampak rambut yang kering, tipis dan mudah rontok; Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit mengurang; Otot-otot atrofis, hingga tulang-tulang terlihat lebih jelas; Penderita marasmus lebih sering menderita diare atau konstipasi; seringkali terdapat bradikardi; tekanan darah lebih rendah dibandingkan dengan anak sehat seumur; frekuensi pernafasan yang mengurang; ditemukan kadar hemoglobin yang agak rendah.
Kwashiorkor Marasmik
Penyakit kwashiorkor marasmik memperlihatkan gejala campuran antara penyakit marasmus dan kwashiorkor. Makanan sehari-harinya tidak cukup mengandung protein dan juga energy untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan dibawah 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula (Pudjiadi, 2000)
2. Malnutrisi Sekunder
Malnutrisi sekunder adalah gangguan pencapaian kenaikkan berat badan yang bukan disebabkan penyimpangan pemberian asupan gizi pada anak Tetapi karena adanya gangguan pada fungsi dan sistem tubuh yang mengakibatkan gagal tumbuh. Gangguan sejak lahir yang terjadi pada sistem saluran cerna, gangguan metabolisme, gangguan kromosom atau kelainan bawaan jantung, ginjal dan lain-lain. Data penderita gagal tumbuh di Indonesia belum ada, di negara maju kasusnya terjadi sekitar 1-5%. Artinya bila di Indonesia terdapat sekitar 30 juta anak, maka diduga terdapat 300.000 – 500.000 anak yang kurang gizi bukan karena masalah ekonomi. Bila di Jakarta terdapat 1 juta anak maka sekitar 10.000 – 50.000 anak mengalami kurang gizi bukan karena masalah ekonomi. Kasus tersebut bila tidak ditangani dengan baik akan jatuh dalam keadaan gizi buruk. Gambaran yang sering terjadi pada gangguan ini adalah adanya kesulitan makan atau gangguan penyerapan makanan yang berlangsung lama. Tampilan klinis gangguan saluran cerna yang harus dicermati adalah gangguan Buang Air Besar (sulit atau sering BAB), BAB berwarna hitam atau hijau tua, sering nyeri perut, sering muntah, mulut berbau, lidah sering putih atau kotor. Manifestasi lain yang sering menyertai adalah gigi berwarna kuning, hitam dan rusak disertai kulit kering dan sangat sensitif. Berbeda pada malnutrisi primer, pada malnutrisi sekunder tampak anak sangat lincah, tidak bisa diam atau sangat aktif bergerak. Tampilan berbeda lainnya, penderita malnutrisi sekunder justru tampak lebih cerdas, tidak ada gangguan pertumbuhan rambut dan wajah atau kulit muka tampak segar. Ketua Tim Adhoc Program Revitalisasi Posyandu Rini Sutiyoso mengatakan bahwa penderita gizi buruk di Jakarta sering diikuti penyakit penyerta TBC (kompas, 5 Oktober 2006). Tetapi fenomena tersebut harus lebih dicermati. Karena, pada kasus malnutrisi sekunder sering terjadi overdiagnosis tuberkulosis (TB). Overdiagnosis adalah diagnosis TB yang diberikan terlalu berlebihan padahal belum tentu mengalami infeksi TB. Penelitian yang dilakukan penulis didapatkan overdiagnosis pada 42 (22%) anak dari 210 anak dengan gangguan kesulitan makan disertai gagal tumbuh yang berobat jalan di Picky Eaters Clinic Jakarta (Klinik Khusus Kesulitan Makan). Laporan Badan Koordinasi Keluarga Berencana DKI Jakarta, bahwa kasus TB sering menyertai. Overdiagnosis tersebut terjadi karena tidak sesuai dengan panduan diagnosis yang ada. Hal lain adalah kesalahan dalam menginterpretasikan gejala klinis, kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya tes mantoux dan foto polos paru. Sebaiknya bila diagnosis TB meragukan dilakukan konsultasi ke dokter ahli paru anak.

F. PENGARUH MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG TERHADAP KESEHATAN
Zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi, mempunyai nilai yang sangat penting (tergantung dari macam-macam bahan makanannya) untuk memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari bagi para pekerja. Termasuk dalam memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yaitu penggantian sel-sel yang rusak dan sebagai zat pelindung dalam tubuh (dengan cara menjaga keseimbangan cairan tubuh). Proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sehat tentunya memiliki daya pikir dan daya kegiatan fisik sehari-hari yang cukup tinggi (Marsetyo dan Kartasapoetra, 1991). Tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap, sesuai dengan standar kecukupan gizi, namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi. Penduduk yang miskin tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam jumlah yang cukup. Mereka menderita lapar pangan dan gizi, mereka menderita gizi kurang. (Sri Handajani, 1996). Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu yang cukup lama. Bila kekurangan itu ringan, tidak akan dijumpai penyakit defisiensi yang nyata, tetapi akan timbul konsekwensi fungsional yang lebih ringan dan kadang-kadang tidak disadari kalau hal tersebut karena factor gizi (Ari Agung, 2002). Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya tubuh melakukan pemeliharaan dengan mengganti jaringan yang sudah aus, melakukan kegiatan, dan pertumbuhan sebelum usia dewasa. Agar tubuh dapat menjalankan ketiga fungsi tersebut diperlukan sejumlah gizi setiap hari, yang didapat melalui makanan. Diperkirakan 50 macam senyawa dan unsur yang harus diperoleh dari makanan dengan jumlah tertentu setiap harinya. Bila jumlah yang diperlukan tidak terpenuhi maka kesehatan yang optimal tidak dapat dicapai (Ari Agung, 2002). Kekurangan zat gizi, khususnya energi dan protein, pada tahap awal menimbulkan rasa lapar dalam jangka waktu tertentu berat badan menurun yang disertai dengan kemampuan (produktivitas) kerja. Kekurangan yang berlanjut akan mengakibatkan keadaan gizi kurang dan gizi buruk. Bila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang mencukupi akhirnya akan mudah terserang infeksi (penyakit) (Drajat Martianto, 1992).
Akibat tidak cukup Pangan dan Gizi terhadap kesehatan yang sering menimpa penduduk terutama anak balita di Indonesia meliputi :
1. Gangguan Kesehatan akibat Kekurangan Energi dan Protein (KEP)
Hasil penelitian di berbagai tempat dan di banyak negara menunjukkan bahwa penyakit gangguan gizi yang paling banyak ditemukan adalah gangguan gizi akibat kekurangan energi dan protein (KEP). Dalam bahasa Inggris penyakit ini disebut Protein Calorie Malnutrition atau disingkat PCM. Ada juga ahli yang menyebutnya sebagai Enery Protein Malnutrition atau EPM, namun artinya sama.
Ada dua bentuk KEP yaitu marasmus dan kwashiorkor. Baik marasmus maupun kwashiorkor keduanya disebabkan oleh kekurangan protein. Akan tetapi pada marasmus di samping kekurangan protein terjadi juga kekurangan energi. Sedangkan pada kwashiorkor yang kurang hanya protein, sementara kalori cukup. Marasmus terjadi pada anak usia yang sangat muda yaitu pada bulan pertama setelah lahir, sedangkan kwashiorkor umumnya ditemukan pada usia 6 bulan sampai 4 tahun. Ada empat ciri yang selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor yaitu sebagai berikut :
a. Adanya oedema pada kaki, tumit dan bagian tubuh lain seperti bengkak karena ada cairan tertumpuk.
b. Gangguan pertumbuhan badan. Berat dan panjang badan anak tidak dapat mencapai berat dan panjang yang semestinya sesuai dengan umurnya.
c. Perubahan aspek kejiwaan, yaitu anak kelihatan memelas, cengeng, lemah dan tidak ada selera makan.
d. Otot tubuh terlihat lemah dan tidak berkembang dengan baik walaupun masih tampak adanya lapisan lemak di bawah kulit.
Pada penderita marasmus biasanya ditemukan juga tanda-tanda defisiensi gizi yang lain seperti kekurangan vitamin C, vitamin A, dan zat besi serta sering juga anak menderita diare.
2. Gangguan Kesehatan Akibat Kekurangan Vitamin A (KUA)
Vitamin A diperlukan untuk penglihatan. Vitamin tersebut merupakan bagian penting dari penerima cahaya dalam mata. Selain itu vitamin A juga diperlukan untuk mempertahankan jaringan ari dalam keadaan sehat. Kulit, pinggiran dan penutup berbagai bagian tubuh, seperti kelopak mata, mata, hidung, mulut, paru-paru dan tempat pencernaan, kesemuanya dikenal sebagai jaringan ari.
Vitamin A juga mempunyai beberapa fungsi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan vitamin A pertumbuhan menjadi terhambat dan rangka tubuh berhenti tumbuh.
Tanda awal dari kekurangan vitamin A adalah tureunnya kemampuan melihat dalam cahaya samar. Penderita sama sekali tidak dapat melihat apabila memasuki ruangan yang agak gelap secara tiba-tiba. Penyakit ini umumnya diderita oleh anak-anak. Terjadinya kekurangan vitamin A adalah sebagai akibat berbagai sebab seperti berikut ini :
a. Tidak adanya cadangan vitamin A dalam tubuh anak sewaktu lahir karena semasa dalam kandungan, ibunya kurang sekali mengkonsumsi makanan sumber vitamin A.
b. Kadar Vitamin A dalam air susu ibu (ASI) rendah. Hal ini disebabkan konsumsi vitamin A ibu yang rendah pada masa menyusui.
c. Anak diberi makanan pengganti ASI yang kadar vitamin A-nya rendah.
d. Anak tidak menyukai bahan makanan sumber vitamin A terutama sayursayuran.
e. Gangguan penyerapan vitamin A oleh dinding usus oleh karena berbagai sebab seperti rendahnya konsumsi lemak atau minyak.

Kekurangan vitamin A dapat meyebabkan cacat menetap pada mata (buta) yang tidak dapat disembuhkan. Xerophthalmia sebagai akibat kekurangan vitamin A merupakan penyebab kebutaan tertinggi, dan yang memprihatinkan adalah penderitanya justru anak-anak usia balita yang merupakan tunas bangsa.
Penanggulangan kekurangan vitamin A dilakukan selain dengan jalan penyuluhan guna memperbaiki makanan keluarga agar lebih banyak mengkonsumsi bahan makanan sumber vitamin seperti sayuran hijau dan buah-buahan berwarna, dilakukan juga pemberian vitamin dosis tinggi yaitu 200.000 – 300.000 SI kepada anak balita.
3. Gangguan Kesehatan Akibat Kekurangan Zat Besi (Anemia Gizi Besi =AGB)
Besi adalah mineral mikro yang mempunyai peran penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Mineral tersebut terdapat dalam darah dan semua sel tubuh. Zat besi dalam darah merah berada sebagai bagian dari hemoglobin dan pigmen sel merah. mineral tersebut bertindak sebagai pembawa oksigen dan karbondioksida.
Jika tidak terdapat cukup besi untuk memenuhi kebutuhan tubuh, maka jumlah hemoglobin dalam sel darah merah berkurang dan keadaan tidak sehat timbul yang dikenal sebagai anemia gizi. Rendahnya kadar hemoglobin dalam darah dilihat apabila bagian kelopak mata penderita terlihat berwarna pucat. Kadar baku hemoglobin dalam darah yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia gizi atau tidak.
Zat besi terutama banyak sekali hanya terdapat dalam sayur-sayuran. Demikian juga asam folat, sedang bitamin B12 hanya terdapat dalam bahan makanan yang berasal dari hewan. Pencegahan anemia gizi selain dengan mengkonsumsi bahan makanan sumber zat besi juga dapat dilakukan dengan jalan memberikan zat besi dalam bentuk tablet kepada wanita hamil terutama dalam masa tiga bulan terakhir menjelang anak lahir.
4. Gangguan Kesehatan Akibat Kekurangan Iodium
Kekurangan iodium akan mengakibatkan membesarnya kelenjar gondok. karena itu, penyakit yang timbul akibat kekurangan iodium disebut penyakit gondok. Karena penyakit pembesaran kelenjar gondok ini ditemukan di daerah-daerah tertentu untuk jangka waktu yang lama, maka disebut penyakit gondok endemik. Di daerah penyakit gondok endemik, pembesaran kelenjar gondok dapat terjadi pada semua umur, bahkan seorang ibu yang menderita pembesaran gondok akan melahirkan bayi yang juga menderita kekurangan iodium dan jika tidak diobati maka pada usia satu tahun sudah akan terjadi pembesaran kelenjar gondoknya.
Kejadian pembesaran kelenjar gondok terbanyak ditemukan pada usia antara 9 sampai 13 tahun pada anak laki-laki dan antara usia 12 sampai 18 tahun pada anak perempuan. Pada usia dewasa jarang sekali terjadi pembesaran kelenjar gondok kecuali pada wanita yang sering ditemukan pembesaran kelenjar gondoknya baru timbul setelah usia 19 atau 20 tahun. Setelah mencapai usia puber, kelenjar gondok yang timbul pada usia kanak-kanak itu cepat sekali membesar dan dapat berubah menjadi bentuk nodula. Akan tetapi yang mengkhawatirkan adalah kemungkinan terjadinya manusia kerdil atau kretinisme di samping gangguan perkembangan otak yang membawa akibat gangguan mental.
Terjadinya kekurangan iodium terutama akibat rendahnya kadar iodium dalam tanah sehingga air dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di daerah itu juga rendah kadar iodiumnya. Di samping itu beberapa jenis makanan mengandung zat yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok dan disebut zat goiterogen. Zat tersebut ditemukan dalam sayuran dari jenis Brassica seperti kubis, lobak, kol kembang. Juga zat tersebut ditemukan dalam kacang kedelai, kacang tanah dan obat-obatan tertentu. Zat goiterogen tersebut dapat menghalangi pengambilan iodium oleh kelenjar gondok sehingga konsentrasi iodium dalam kelenjar gondok sangat rendah. Selain itu zat tersebut juga dapat menghambat perubahan iodium dari bentuk anorganik menjadi bentuk organik sehingga menghambat pembentukan hormon tiroksin.
Masih ada beberapa faktor lain yang diduga dapat mengakibatkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok, seperti air minum yang tercemar, kadar zat kapur dalam air yang terlalu tinggi dan sebagainya.

Dengan diketahuinya penyebab terpenting dari penyakit gondok itu maka usaha-usaha pencegahan telah dapat dilakukan dengan mudah. Pada tahun 1833 dilakukan percobaan dengan mencampurkan iodium ke dalam garam kapur dan baru dalam tahun 1924 usaha pencegahan penyakit gondok ini dengan menggunakan garam beriodium (iodized salt) secara besar-besaran dilakukan di Amerika Serikat. Jenis iodium yang digunakan dalam pembuatan garam beriodium adalah persenyawaan iodat kalium (KIO3) dengan kadar satu bagian iodium dicampur dengan 10.000 – 200.000 bagian garam. Di Indonesia pembuatan garam beriodium ini dilakukan dengan jalan memasukkan 3,3 mg larutan KI ke dalam tiap bata garam (brickets) dan dengan cara ini diperoleh garam beriodium dengan kadar 20 ppm.

BAB III
PENUTUP

Solusi Kurang Pangan dan Gizi

1. Solusi Kurang Pangan
a. Perbaikan dan pemerataan ekonomi Negara

Salah satu factor penyebab timbulnya kurang pangan adalah buruknya ekonomi Negara yang menyebabkan tidak meratanya perekonomian Negara. Hal ini menyebabkan rendahnya daya beli pangan untuk kalangan bawah. Pemerintah harus lebih cermat menangani masalah ini, karena masalah perekonomian yang berlarut – larut ini akan berujung pada kematian. Harus segera dilakuakn pemerataan ekonomi dengn cara mencptakan lapangan kerja seluas – luasnya, melenyapkan praktek KKN (koropsi, kolusi dan nepotisme) dan lain sebagainya.
b. Perubahan lebih baik kebijakan pemerintah tentang pangan

Defisit pangan yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan resultante kekeliruan kebijakan pangan pemerintah yang lalu. Diawali kemiskinan yang berhulu kebijakan ekonomi diskriminatif beraroma korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), merapuhkan fondasi ekonomi Indonesia karena yang dikembangkan dan diperlakukan sebagai “anak emas” adalah industri berteknologi tinggi (pesawat terbang) yang sarat dengan inefficient. Tetapi, kebijakan keliru ini serta merta diamini kaum konglomerat, birokrat, dan sebagian ekonom karena menguntungkan kelompoknya. Di sisi lain, sektor pertanian sebagai pemasok bahan pangan dan gizi dianggap tidak prestisius, produknya tidak marketable dan return of investment-nya rendah.
Padahal, dalam tiap wacana pembangunan ekonomi nasional acap disebut, pertanian adalah leading sector. Kenyataannya, sektor pertanian diposisikan sebagai “ban serap” pendukung sektor industri, bukan mesin penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Ini tercermin dari kredit ke sektor pertanian yang jumlahnya relatif kecil dari tahun ke tahun, penghapusan subsidi pupuk, serta pengadaan sarana dan prasarana pertanian yang tidak memadai.
Perlakuan diskriminatif ini melahirkan krisis pangan berkepanjangan dan menjadi bukti empiris tak terbantahkan bahwa kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertanian telah gagal menciptakan sistem ketahanan pangan yang tangguh dan berkelanjutan (sustainable food security).
Mencermati ketersediaan dan produksi pangan yang belakangan cenderung menurun, upaya mewujudkan ketahanan pangan makin penting dilakukan. Apalagi kini Indonesia tercatat tidak hanya sebagai importir beras terbesar di dunia tetapi juga importir gula, kedelai, jagung, daging, dan lain-lain yang menghabiskan devisa milyaran dollar AS. Jika tidak ditemukan cara untuk meningkatkan produksi, Indonesia akan menghadapi malapetaka di bidang pangan pada masa resesi ekonomi global ini. Untuk itu harus ada program jangka pendek dan jangka panjang yang bisa dilakukan berkesinambungan. Langkah strategis yang harus dilakukan dalam program jangka pendek adalah memperbaiki manajemen pangan (food management) agar masyarakat di seluruh wilayah Indonesia memperoleh pangan yang cukup dan merata dengan mutu yang baik dan tingkat harga yang terjangkau.

c. Peningkatan produksi dan pasokan, manajemen cadangan pangan,
insentif produksi,diversifikasi pangan, sistem informasi pangan.

2. Solusi kurang gizi
a. Perbaikan dan pemerataan ekonomi
Sama halnya seperti kurang pangan, penyebab utama kurang gizi adalah buruknya perekonomian Negara. Sehingga perlu adanya perubahan – perubahan infrastuktur kepemerintahan dan kebijakan pemerintah untuk perekonomian lebih baik. Agar adanya pemerataan ekonomi dan dapat meningkatkan asset Negara yang akan digunakan untuk perbaikan gizi.

b. Diadakannya penyuluhan tentang gizi
Kurang gizi bukan hanya disebabkan oleh factor ekonomi, orang yang mampu pun dapat mengalaminya. Hal ini disebabkan minimya pengetahuan tentang gizi. Untuk itu perlu diadakannya penyuluhan – penyuluhan tentang gizi bagi semua lapisan masyarakat agar masyarakat tahu tentang pentingnya gizi bagi kesehatan.

c. Perbaikan Gizi oleh pemerintah.
Perlu diadakannya program – program yang menuju pada perbaikan gizi. Contohnya pemberian susu gratis untuk sekolah – sekolah kaum menengah kebawah.

d. Aplikasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) adalah cara pengelolaan informasi pangan dan gizi, untuk menentukan tindakan sesuai dengan keadaan setempat. Dengan SKPG diharapkan adanya informasi pangan dan gizi secara tepat dan cepat, sehingga memungkinkan adanya tindakan penanggulangan secara cepat dan tepat pula. Dengan demikian dampak negatif masalah pangan dan gizi terhadap kualitas sumberdaya manusia dapat dihindari.

e. Mengadakan Pencegahan pencegahan gizi buruk
Beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: (1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. (2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.(3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter. (4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. (5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.

PENUTUP
a. Kesimpulan
1. Pangan adalah hal yang sangat penting untuk kehidupan. Supaya sehat dan cukup gizi, kita harus memperoleh pangan yang cukup beragam, berkualitas serta aman.Oleh karena itu kurang pangan dapat mempengaruhi kesehatan bahkan menyebabkan kematian.
2. Faktor yang mempengaruhi pangan kurang:
1. Goncangan Pasar Dunia
2. Daya saing dan Kebijakan perdagangan
3. Goncangan variabel makro ekonomi (nilai tukar, suku bunga,inflasi dll)
4.Gangguan produksi : (a) aspek fisik (kekeringan, banjir, gempa, hama dan penyakit dll), (b) aspek ekonomi (ketersediaan dan harga sarana produksi, produk substitusi),
5. Masalah politik, keamanan dan konflik sosial
6. Gangguan permintaan (daya beli, produk substitusi, industri yang menggunakan bahan baku pangan)
7. Buffer stock Management
8. Distribusi pangan
9. Struktur pasar
10.Fluktuasi musiman produksi dan komsumsi
11.Spekulasi perdagangan
12.Kualitas produk pangan
13.Sistem infomasi
14.Kelembagaan dan koordinasi
3. Solusi pangan kurang
a.Perbaikan dan pemerataan ekonomi Negara
b. Perubahan lebih baik kebijakan pemerintah tentang pangan
c. Peningkatan produksi dan pasokan, manajemen cadangan pangan,
insentif produksi,diversifikasi pangan, sistem informasi pangan.

5. Gizi pangan adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vtamin, dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu gizi sangatalah mempengaruhi kesehatan. . Kekurangan gizi dapat menyebabkan berbagai penyakit.
6.Faktor – factor penyebab gizi kurang.
1.Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi.
2.Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan anak;
3. Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai
4. Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak;
5. Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernapasan dan diare.
6. Pola makan yang salah
7. Laju pertumbuhan penduduk
8. Kurangnya asupan gizi dari makanan

7.Solusi gizi buruk
Mengadakan Pencegahan pencegahan gizi buruk
f. Aplikasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
g. Perbaikan Gizi oleh pemerintah.
h. Perbaikan dan pemerataan ekonomi
i. Diadakannya penyuluhan tentang gizi

2.Saran
Pemerintah harus lebih cermat dalam menangani masalah pangan dan gizi kurang yang sudah lama menjamur di Indonesia. Pemerintah juga harus mengadakan program – program baru dalam memberantas pangan dan gizi kurang.

DAFTAR PUSTAKA

LAPORAN
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI DASAR
KELOMPOK 5 ROMBONGAN 1

DI SUSUN OLEH:
CINDY FAULIN . S
A1M008027

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
PURWOKERTO
2009

ACARA II
PERHITUNGAN KOLONI BAKTERI

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mikroorganisme adalah makhluk yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat dibawah mikroskop. Salah satu jenis mikroorganisme adalah bakteri. Bakteri merupakan organisme uniselular yang tumbuh dengan cara pembelahan biner yaitu satu sel membelah secara simetris. Untuk mempermudah penghitungan koloni diperlukan pengetahuan mengenai morfologi bakteri tersebut sehingga media pertumbuhan yang akan digunakan sesuai dengan sifat bakteri tersebut.
Kehadiran mikrobia pada makanan dapat bersifat menguntungkan atau merugikan. Ada hasil metabolisme spesies mikrobia tertentu pada makanan dibutuhkan dan digemari oleh manusia. Akan tetapi ada beberapa species yang dapat merusak makanan dengan pembusukan atau menghasilkan toksin yang berbahaya bagi manusia. Setiap produk yang dihasilkan oleh mikrobia tergantung jumlah mikrobia yang terkandung dalam suatu bahan atau lingkungan.
Analisis kuantitatif mikrobiologi pada bahan pangan penting dilakukan untuk mengetahui mutu bahan pangan, dan proses yang akan diterapkan pada bahan pangan tersebut. Ada beberapa cara untuk mengukur atau menghitung mikrobia yaitu dengan perhitungan jumlah sel, perhitungan massa sel secara langsung, dan pendugaan massa sel secara tak langsung. Perhitungan jumlah sel dapat dilakukan dengan 3 metode yaitu dengan hitungan mikroskopik, MPN (Most Probable Number), dan hitungan cawan (Fardiaz, 1989). Dari ketiga metode tersebut metode hitungan cawan paling banyak dan mudah digunakan. Oleh karena itulah, pada acara praktikum mikrobiologi dasar untuk perhitungan koloni kali ini menggunakan metode hitungan cawan.

B. Tujuan
Menghitung jumlah koloni bakteri menggunakan metode hitungan cawan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Perhitungan jumlah suatu bakteri dapat melalui berbagai macam uji seperti uji kualitatif koliform yang secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji penduga (uji kuantitatif, bisa dengan metode MPN), uji penguat dan uji pelengkap. Waktu, mutu sampel, biaya, tujuan analisis merupakan beberapa faktor penentu dalam uji kualitatif koliform. Bakteri koliform dapat dihitung dengan menggunakan metode cawan petri (metode perhitungan secara tidak langsung yang didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni yang merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terdapat pada sampel) (Penn, 1991).
Fardiaz (1989) menyatakan ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menghitung atau mengukur jumlah jasad renik di dalam suatu suspensi atau bahan, yang dapat dibedakan atas beberapa kelompok yaitu :
A. Perhitungan jumlah sel
1. Hitungan mikroskopik
2. Hitungan cawan
3. MPN (Most Probable Number)
B. Perhitungan massa sel secara langsung
1. Volumetrik
2. Gravimetrik
3. Kekeruhan (turbidimetri)
C. Perhitungan massa sel secara tidak langsung
1. Analisis komponen sel
2. Analisis produk katabolisme
3. Analisis konsumsi nutrien
Dari metode-metode tersebut, metode hitungan cawan paling banyak digunakan. Hal ini disebabkan metode hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitif untuk menghitung jumlah mikroba karena:
1. Hanya sel yang masih hidup yang dihitung
2. Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus
3. Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari satu sel dengan penampakan pertumbuhan yang spesifik.
Prinsip dari metode hitungan cawan adalah menumbuhkan sel mikrobia yang masih hidup pada metode agar, sehingga sel mikrobia tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop (Fardiaz, 1993).
Metode hitungan cawan dapat dibedakan atas dua cara yaitu :
1. Metode tuang (pour plate)
2. Metode permukaan (surface / spread plate)
Pada perhitungan menggunakan metode cawan, diperlukan suatu pengenceran agar jumlah koloni mikrobia yang ada pada cawan dapat dihitung dan sesuai standar, yaitu berjumlah 30 – 300 per cawan. Pengenceran dilakukan secara decimal yntuk memudahkan perhitungan.
Perhitungan metode cawan menggunakan rumus sebagai berikut :

Faktor pengenceran = pengenceran x jumlah yamg ditumbuhkan

Jumlah koloni (SPC) = jumlah koloni x

Untuk melaporkan suatu analisis mikrobiologi digunakan suatu standar yang disebut “Standard Plate Count” yang menjelaskan cara menghitung koloni pada cawan serta cara memilih data yang ada untuk menghitung jumlah koloni dalan suatu contoh.
Cara menghitung koloni pada cawan adalah sebagai berikut :
1. Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 sampai 300.
2. Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan suatu kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloninya diragukan, dapat dihitung sebagai satu koloni.
3. suatu deretan (rantai) kolini yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni.
Sedangkan data yang dilaporkan sebagai SPC harus mengikuti peraturan sebagai berikut :
1. Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka, yaitu angka pertama dibelakang koma dan angkan kedua dibelakang koma. Jika angka ketiga sama dengan atau lebih besar dari 5, harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua.
2. Jika semua pengenceran yang dibuat untuk menanam menghasilkan angka kurang dari 30 pada cawan petri, hanya jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan.
3. Jika semua pengenceran yang dibuat untuk menanam menghasilkan angka lebih besar dari 300 pada cawan petri, hanya jumlah koloni pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai lebih dari 300 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan.
4. Jika cawan dari dua tingkat pengenceran menghasilkan koloni dengan jumlah antara 30 dan 300, dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih kecil atau sama dengan 2, yang digunakan adalaha rata-ratanya. Jika perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih besar dari 2, yang dilaporkan hanya hasil terkecil.
5. Jika digunakan dua cawan Petri (duplo) per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, meskipun salah satunya tidak memenuhi syarat diantara 30 dan 300.
Koloni adalah kumpulan dari mikrobia yang memilki kesamaan sifat-sifat seperti bentuk, susunan, permukaan, dan sebagainya. Sifat-sifat yang perlu diperhatikan pada koloni yang tumbuh di permukaan medium adalah (Dwidjoseputro, 1978) :
1. Besar kecilnya koloni. Ada koloni yang hanya serupa suatu titik, namun ada pula yang melebar sampai menutup permukaan medium.
2. Bentuk. Ada koloni yang bulat, ada yang memanjang. Ada yang tepinya rata, ada yang tidak rata.
3. Kenaikan permukaan. Ada koloni yang rata saja dengan permukaan medium, ada pula yang timbul yaitu menjulang tebal di atas permukaan medium.
4. Halus kasarnya permukaan. Ada koloni yang permukaannya halus, ada yang permukaannya kasar dan tidak rata.
5. Wajah permukaan. Ada koloni yang permukaannya mengkilat, ada yang permukaannya suram.
6. Warna. Kebanyakan koloni bakteri berwarna keputihan atau kekuningan.
7. Kepekatan. Ada koloni yang lunak seperti lendir, ada yang keras dan kering.
Pada praktikum ini, bakteri yang akan dihitung koloninya adalah Escherichia Coli yang merupakan bakteri gram negative berbentuk batang, bersifat anaerobic fakultatif. Ukurannya berkisar pada 0,6 x 2,0-3,0 µm (Pelczar, 1986). E. Coli secara normal terdapat didalam usus besar dan termasuk bakteri kolform.
Bakteri koliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri koliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain dengan kata lain merupakan bakteri indikator sebagai tanda bahwa adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan koliform fecal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Keuntungan mendeteksi koliform adalah jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain (Hadioetomo, 1993).
Koliform merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indikator adanya pencemaran dan kondisi sanitasi yang tidak baik terhadap air, makanan, susu dan produk-produk susu. Ada beberapa jenis E. Coli yang bersifat invasif atau meracuni makanan, Contoh E. Coli ini yaitu E. Coli enteropatogenik (EPEC), EIEC (enteroinvasif E. Coli), dan ETEC (enterotoksigenik E. Coli). Selain itu bakteri yang akan dihitung koloninya adalah Lactobacillus acid.
Pada saat perhitungan koloni, apabila jumlah koloni yang di temukan kurang dari standart yang telah di tetapkan, maka suatu sample bisa di katakan murni (Dilliello, 2002). Terkadang untuk menghitung kuantitas mikroorganisme pada sample dapat di uji dengan cara menghitung jumlah koloni pada agar. Agar lempengan yang telah ditetapkan, disingkat jumlah penjumlahan pada lempengan (Standart plate count) (Dwisaputro, 2002).
Standart plate count (perhitunngan jumlah pada lempengan) sangat berguna dalam hal mengetahui kuantitas mikroorganisme pada suatu tempat atau sampel sehingga bisa di ketahui apakah sampel tersebut murni atau tidak murni (Stanier, 2001).
Perhitungan koloni:
Pour plate : 1 × ∑ koloni
Faktor pengencer
Spread plate : 1 × 10 × ∑ koloni
Faktor pengencer
Standart plate count : 30 – 300 koloni
Syarat :
• Jika kurang dari 2 : Dipakai pengencer terbesar
• Jika lebih dari 2 : Dipakai rata-rata

Perhitungan jumlah koloni akan lebih mudah dan cepat jika pengenceran dilakukan secara decimal. Semakin tinggi jumlah mikroba yang terdapat di dalam sample, semakin tinggi pengenceran yang harus dilakukan (Fardius, 1992).

Kisaran hitung
Seperti yang sampai saat ini diketahui bahwa kisaran yang paling tepat dalam menghitung koloni pada cawan adalah 30-300 koloni/cawan atau 25-250 koloni/cawan. Permulaan penentuan kisaran ini berawal dari seorang mikrobiologiwan bernama Nersser (1895) yang menyimpulkan bahwa hitungan cawan yang paling baik adalah cawan yang memiliki 10.000 koloni/cawan yang perhitungannya dilakukan dengan mikroskop pada perbesaran rendah. Tiga tahun kemudian muncul pernyataan bahwa cawan yang mempunyai koloni lebih dari 100 koloni/cawan sebaiknya diabaikan. Selanjutnya pada tahun 1897, Hill menyarankan untuk tidak menghitung cawan yang terlalu banyak jumlah koloninya (overcrowded) karena tidak memberikan hasil yang sesuai dengan kenyataan. Kemudian tahun 1908, orang yang sama menyimpulkan tentang kisaran hitung 40-200 koloni/cawan yang digunakan sebagai landasan pelaporan. Kisaran ini diterima pada Comitee Standard Method of Bacteriology Water Analysis (1915) dan diubah menjadi 30-200 koloni/cawan.
Pencetus kisaran hitung 25-250 koloni/cawan dikemukakan oleh Breed dan Dotterrer pada tahun 1916 yang mempublikasikan dalam seminarnya mengenai topik ini. Mereka menentukan kisaran ini berdasarkan alasan supaya hasil perhitungannya tidak menimbulkan kesalahan statistik yang serius. Mereka juga mencatat bahwa jenis bakteri dapat mempengaruhi ukuran koloni dan jumlah koloni yang tumbuh pada cawan. Selain itu komposisi nutrisi dan jarak antar koloni juga mempengaruhi jumlah koloni per cawan karena koloni tetangga mungkin dapat menghambat pertumbuhan atau menstimulus koloni didekatnya (seperti B. bulgaricus yang distimulus oleh adanya molds). Breed dan Dotterrer memakai tiga kali plating tiap pengenceran (triplicate plating) dalam percobaanya dan memilih cawan yang masuk kisaran dari tiap pengenceran. Pada analisa ini cawan yang memiliki jumlah koloni 400 dianggap tidak memenuhi syarat, sedangkan cawan yang memenuhi syarat itu sendiri berjumlah antara 50 dan 200 koloni/cawan. Pencetus lainnya adalah Tomasiewicz (1980) yang menyimpulkan bahwa kisaran hitung untuk plate count dengan ulangan 3 kali (triplicate) yaitu 25-250 koloni/cawan. Kesimpulan ini didapat dari data analisa susu (raw milk) pada tiga eksperimen yang berbeda.
USP (United States Pharmacopoeial) merekomendasikan untuk menggunakan kisaran hitung antara 25 dan 250 koloni/cawan untuk bakteri pada umumnya dan Candida albicans. Sedangkan kisaran yang disarankan jika menganalisa jumlah Aspergillus niger adalah 8-80 koloni/cawan. ASTM (American Standard Testing and Methods) menyarankan untuk menggunakan kisaran hitung 20-80 koloni/membran jika menggunakan teknik filtrasi membran, 20-200 koloni/cawan untuk spread plate dan 30-300 koloni/cawan untuk pour plate. FDA BAM (Food and Drug Administration, Bacteriological Analytical Manual) merekomendasikan 25-250 koloni/cawan sebagai kisaran hitung secara keseluruhan.

Batas atas kisaran hitung.
Istilah untuk menggambarkan jumlah koloni yang melebihi batas atas kisaran hitung adalah TNTC (Too Numerous To Count). ASTM menyarankan untuk melaporkan TNTC sebagai lebih besar dari batas atas, misalnya >200 CFU pada cawan dari pengenceran 1/10, maka pelaporannya adalah >2000 CFU/ml(g).

III. BAHAN DAN ALAT
A. Bahan
1. Kultur bakteri dalam medium cair
2. Larutan 0,85% NaCl
3. Medium NA
B. Alat
1. Tabung reaksi
2. Cawan petri
3. Pipet ukur 1 ml

IV. PROSEDURE KERJA

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan
Perhitungan Koloni Bakteri (Kelompok 5)
No. Pengenceran Jumlah Koloni
E_Colli Lactobacillus Asidopillus
1. 10ˉ¹ – –
2. 10ˉ² – –
3. 10ˉ³ 241 464
4. 10ˉ4 171 447
5. 10ˉ5 152 292
Perhitungan :
E.Colli =
Pengenceran 10ˉ³ → 241 x = 241.000
Pengenceran 10ˉ4 → 171 x = 1.710.000
Pengenceran 10ˉ5 → 152 x = 15.200.000

Lactobacillus Acid =
Pengenceran 10ˉ³ → 464 x = 464.000
Pengenceran 10ˉ4 → 447 x = 4.470.000
Pengenceran 10ˉ5 → 292 x = 29.200.000

Jumlah koloni (SPC) :
Rata2 jumlah bakteri E_Colli pada pengenceran 10ˉ³10ˉ4 dan 10ˉ5= 241+171+152
3
= 188

Jumlah koloni (SPC) E_Colli = 462,67 x 1/10ˉ³10ˉ410ˉ5 = 188 x 1012
Rata2 jumlah bakteri Lactobacillus Acid pada pengenceran 10ˉ³10ˉ4 dan 10ˉ5 =
464+ 447+292 = 401
3
Jumlah koloni (SPC) E_Colli = 401 x 1/10ˉ³10ˉ410ˉ5 = 401 x 1012

B. Pembahasan

Metode hitungan cawan dilaksanakan dengan mengencerkan sampel suspensi bakteri Escherichia Coli dan Lactobacillus Acid kedalam larutan garam fisiologi (NaCl) 0,85 %. Pengenceran dilakukan agar setelah inkubasi, koloni yang terbentuk pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung. Dimana jumlah terbaik adalah antara 30 sampai 300 sel mikrobia per ml, per gr, atau per cm permukaan (Fardiaz, 1993). Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah sehingga semakin banyak jumlah pengenceran yang dilakukan, makin sedikit sedikit jumlah meikrobia, dimana suatu saat didapat hanya satu mikrobia pada satu tabung (Waluyo, 2004).
Larutan yang digunakan untuk pengenceran harus memilki sifat osmotik yang sama dengan keadaan lingkungan asal mikrobia untuk menghindari rusaknya sel, selain itu juga harus dijaga agar tidak terjadi perbanyakan sel selama pengenceran. Selain menggunakan larutan garam fisiologi (NaCl) 0,85 %, pengenceran juga dapat dilakukan dengan menggunakan larutan fosfat buffer, larutan Ringer, atau akuades. Namun penggunaan akuades sebaiknya dihindari karena dapat mengakibatkan rusaknya sel akibat perbedaan tekanan osmotik, karenanya pelaksanaan pengencerannya harus cepat. Kedalam larutan pengencer juga dapat ditambahkan butir-butir gelas (glass beads) atau pasir putih yang disterilisasi bersama dengan larutan tersebut untuk melarutkan bahan yang sukar larut.
Pengenceran yang dilakukan dalam percobaan ini adalah pengenceran desimal yaitu 10-1, 10-2, 10-3, 10-4 dan 10-5. Dan yang diplating dan diamati adalah pengenceran 10-3, 10-4, dan 10-5. Hal ini karena diperkirakan koloni yang terbentuk oleh Escherichia Coli berada pada jumlah yang dapat dihitung pada pengenceran tersebut. Selain itu, perhitungan jumlah koloni akan lebih mudah dan cepat jika pengenceran dilakukan secara desimal.
Selanjutnya dari masing-masing tabung pengenceran diambil 1 ml untuk dilakukan penanaman atau plating pada media NA secara aseptik. Plating atau penanaman bakteri adalah proses pemindahan bakteri dari medium lama ke medium baru (Dwidjoseputro, 1978). Pada penanaman bakteri dibutuhkan kondisi aseptis atau steril, baik pada alat maupun proses, untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya mikrobia yang tidak diinginkan. (Fardiaz, 1993).
Media NA digunakan karena merupakan media yang paling cocok untuk kultur bakteri. Selanjutnya cawan petri diinkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 37 ºC dalam keadaan terbalik. Cawan petri diinkubasi dalam keadaan terbalik untuk menghindari kontaminasi dari air yang mengembun diatas cawan petri yang mungkin menetes jika cawan petri diletakan pada posisi normal. Inkubasi dilakukan selama 2 x 24 jam karena jumlah mikrobia maksimal yang dapat dihitung, optimal setelah masa tersebut yaitu akhir inkubasi. Selama masa inkubasi, sel yang masih hidup akan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung oleh mata.
Prinsip perhitungan koloni bakteri adalah semakin tinggi tingkat pengenceran semakin rendah jumlah koloni bakteri. Dengan kata lain tingkat pengenceran berbanding terbalik dengan jumlah koloni bakteri. Berdasarkan hasil pengamatan perhitungan koloni bakteri Escherichia Coli dari kelompok 5 hasil perhitungannya menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengenceran semakin sedikit jumlah bakteri. Namun pada perhitungan koloni bakteri Lactobacillus Acid kelompok 5 mengalami kegagalan, karena jumlah bakteri berbanding lurus dengan tingkat pengenceran. Hal ini disebabkan terjadinya kontaminan yang berasal dari alat yang digunakan, praktikan ataupun udara. Selain itu bisa juga disebabkan oleh kurangnya kecermatan dan ketelitian praktikan baik dalam proses praktikum ataupun perhitungan.
Dari hasil didapat bahwa jumlah koloni bakteri yang terdapat dalam 1 ml kultur E. Coli sampel adalah 188 x 1012 koloni. Menurut Dwidjoseputro (1978), Escherichia Coli mengadakan divisio atau pembelahan biner sel setiap 20 menit. Berdasarkan hal itu, maka dapat diperkirakan jumlah E. Coli setelah 2 hari adalah 2 x 272. Sedangkan jumlah koloni bakteri Lactobacillus Acid dari hasil perhitungan adalah 401 x 1012.
Metode hitungan cawan juga mempunyai kelemahan, yaitu (Fardiaz, 1993) :
1. Hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel mikroba yang sebenarnya, karena beberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni.
2. Medium dan kondisi yang berbeda mungkin menghasilkan niali yang berbeda
3. Mikroba yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang kompak dan jelas, tidak menyebar
4. Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi beberapa hari sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Pengenceran merupakan salah satu faktor yang penting dalam penghitungan koloni.

B. Saran
Sebaiknya proses praktikum dilakukan dengan lebih aseptis untuk mengurangi kontaminan agar data yang didapat lebih akurat.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1978. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan; Jakarta.

Fardiaz, S. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta.

.1989. Mikrobiologi Pangan. PAU Pangan dan Gizi IPB; Bogor.

Schlegel, H., G. 1994. Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University Press; Yogyakarta.

Suriawiria, Unus. 1985. Pengantar Mikrobiologi Umum. Penerbit Angkasa; Bandung.

Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM Press; Malang.

Penanggung Jawab : Cindy Faulin .S
A1M008027

ACARA I
KARBOHIDRAT
GELATINISASI PATI

PENDAHULUAN
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia. Selain itu karbphidrat juga dapat berperan dalam pengolahan pangan. Karbohidrat (‘hidrat dari karbon’, hidrat arang) atau sakarida (dari bahasa Yunani σάκχαρον, sákcharon, berarti “gula”) adalah segolongan besar senyawa organik yang paling melimpah di bumi. Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana yang disebut monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Banyak karbohidrat merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta dapat pula bercabang-cabang, disebut polisakarida, misalnya pati, kitin, dan selulosa. Selain monosakarida dan polisakarida, terdapat pula disakarida (rangkaian dua monosakarida) dan oligosakarida (rangkaian beberapa monosakarida). Secara alami ada tiga bentuk kabohidrat yang terpenting yaitu :
1. Monosakarida
2. Oligosakarida
3. Polisakarida
Salah satu monosakarida yang penting adalah glukosa. Glukosa disebut juga gula anggur karena terdapat dalam buah anggur, gula darah karena terdapat dalam darah atau dekstrosa karena memutarkan bidang polarisasi kekanan. Glukosa merupakan monomer dari polisakarida terpenting yaitu amilum, selulosa dan glikogen. Glukosa merupakan senyawa organik terbanyak. terdapat pada hidrolisis amilum, sukrosa, maltosa, dan laktosa. Pati merupakan homopolimer glukosa dengan ikatan -glikosidik. Apabila pati dimasukkan ke dalam air dingin maka granula pati akan menyerap air dan membengkak. Pembengkakan ini tidak dapat kembali pada kondisi semula. Perubahan inilah yang disebut gelatinisasi. . Pada suhu tertentu, granula pati akan pecah, yang mengakibatkan viskositas larutan naik. Suhu pada saat granula pecah disebut suhu gelatinisasi. Pemanasan dengan diaduk akan mempercepat terjadinya gelatinisasi. Suhu gelatinisasi tergantung juga pada konsentrasi pati, makin kental larutan makin lambat tercapai suhu tersebut sampai suhu tertentu, kekentalan tidak bertambah, bahkan kadang-kadang turun.
Jika pati tersebut dipanaskan maka akan terjadi perubahan selama gelatinisasi. Mula – mula suspensi pati yang keruh seperti susu tiba – tiba mulai menjadi jernih pada suhu tertentu.

II. PROSEDURE KERJA
a. Alat dan Bahan
– Pati (tapioka, maizena, irut) – Beaker gelas
– Akuades – Timbangan

b. Prosedure Kerja
Disiapkan 4 beaker glass 100ml untuk setiap jenis pati

Tiap jenis pati ditimbang 5 gram, dimasukan kedalam masing-masing beaker glass ditambahkan tetes demi tetes Aquades sambil diaduk sampai terbentuk pasta kental.

Selanjutnya dilakukan sebagai berikut :
Beaker 1 : ditambah 50ml air suhu 60° C sambil di aduk
Beaker 2 : ditambah 50ml air suhu 70° C sambil di aduk
Beaker 3 : ditambah 50ml air suhu 80° C sambil di aduk
Beaker 4 : ditambah 50ml air suhu 90° C sambil di aduk

Pengukuran viskositas didekati dengan menentukan waktu penetesan (detik) yang diperlukan untuk mengeluarkan 10 ml (dengan pipet 10 ml) isi masing-masing beaker (segera ambil setelah diaduk) mulai no 1-4.

Khusus untuk beaker 4, dibiarkan sekitar 5-8 menit (sekitar suhu 70° C) di ukur lagi seperti penetesan di atas ; 50° C ; 30° C

Dibuat kurva (untuk setiap jenis pati yang lain) dalam hubungan absis (suhu °C) dan ordinat (lama penetesan, detik)

III. TINJAUAN PUSTAKA
Karbohidrat adalah hasil alam yang melakukan banyak fungsi penting dalam tanaman maupun hewan. ( Hart, 1987 ). Karbohidrat mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan, misalnya rasa, warna, tekstur, dan lain-lain. Sedangkan dalam tubuh, karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya ketosis, pemecahan protein tubuh yang berlebihan, kehilangan mineral, dan berguna untuk membantu metabolisme lemak dan protein (Winarno, 2002).
Sifat-sifat karbohidrat
Beberapa sifat karbohidrat antara lain:
a.Mono dan disakarida memiliki rasa manis yang disebabkan oleh gugus hidroksilnya, oleh karena itu golongan ini disebut gula.
b.Semua jenis karbohidrat akan berwarna merah apabila larutannya (dalam air) dicampur dengan beberapa tetes larutan α-naftol (dalam alcohol) dan kemudian dialirkan pada asam sulfat pekat dengan hati-hati sehingga tidak tercampur. Sifat ini dipakai sebagai dasar uji kualitatif adanya karbohidrat (uji Molisch)
c.Warna biru kehijauan akan timbul apabila larutan karbohidrat dicampur dengan asam sulfat pekat dan anthroe. Warna ini timbul karena terbentuknya furfural dan hidroksi furfural sebagai senyawa derifat dari gula-gula.
(Sudarmadji, 2003)
Melaului fotosintesis, tanaman mengubah karbondioksida menjadi karbohidrat yaitu dalam bentuk selulosa, Pati dan gula-gula lain. Selulosa adalah komponen struktur pada tanaman yang digunakan untuk membangun dinding sel yang kaku, serat dan jaringan kayu. Pati adalah bentuk utama penyimpana karbohidrat yang digunakan sebagai sumber makanan atau energi.
Pati merupakan cadangan makanan yang terdapat di dalam biji-bijian atau umbi-umbian. Pati merupakan homopolimer glukosa dengan ikatan -glikosidik. Berbagai macam pati tidak sama sifatnya, tergantung dari panjang rantai C-nya, serta apakah lurus atau bercabang rantai molekulnya. Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas, yaitu:
a.Amilosa, merupakan fraksi yang terlarut dalam air panas yang mempunyai struktur lurus dengan ikatan α-1,4-D-glukosa.
b.Amilopektin, merupakan fraksi yang tidak larut dalam air panas dan mempunyai struktur bercabang dengan ikatan α-1,6-D-glukosa.
(Winarno, 2002)
Peranan perbandingan amilosa dan amilopektin terlihat dalam serealia, contohnya beras. Semakin kecil kandungan amilosanya atau semakin tinggi amilopektinnya maka semakin lekat nasi tersebut (Winarno, 2002).
Granula pati tidak larut dalam air dingin, tetapi akan mengembang dalam air panas. Apabila suspensi pati dipanaskan sampai suhu 60-700C, granula pati yang berukuran relatif besar akan membengkak sangat cepat. Jika suhu pemanasan terus meningkat, granula yang lebih kecil ikut membengkak hingga seluruh granula pati membengkak secara maksimal. Bentuk mikroskopis granula menandakan sumber patinya. Konstituen utama pati adalah amilosa (15–20%) yang mempunyai struktur heliks tak bercabang dan memberikan warna biru dengan iodin serta dengan jelas cenderung mengadakan retrodegradasi dan amilopektin (80–85%) yang tersusun dari rantai bercabang dan hanya memberikan warna merah dengan iodin karena tidak terbentuk helix serta sedikit cenderung mengadakan retrodegradasi (Muljohardjo, 1987).
Pati akan mengalami denaturasi jika diberi perlakuan panas, granula pati tidak larut dalam air dingin tetapi akan mengembang dalam air hangat. Pengembangan granula pati bersifat dapat balik jika pemanasan yang diberikan pada pati belum melewati suhu gelatinisasi. Pengembangan granula pati disebabkan oleh penetrasi molekul pati terperangkap dalam molekul–molekul amilosa atau amilopektin (Basuki dkk., 1988).
Kemampuan menyerap air yang besar pada pati diakibatkan karena molekul pati mempunyai jumlah gugus hidroksil yang sangat besar (Winarno, 2002). Penambahan air pada pati akan membentuk suatu sistem dispersi pati dengan air, karena pati mengandug amilosa dan amilopektin yang mengandung gugus hidroksil yang reduktif. Gugus hidroksil akan bereaksi dengan hidrogen dari air. Dalam keadaan dingin viskositas sistem dispersi pati air hanya berbeda sedikit dengan viskositas air, karena ikatan patinya masih cukup kuat sehingga air belum mampu masuk ke dalam granula pati. Setelah dipanaskan ikatan hidrogen antara amilosa dan amilopektin mulai lemah sehingga air semakin mudah terpenetrasi ke dalam susunan amilosa dan amilopektin (Meyer, 1973).
Bila suspensi pati dalam air dipanaskan, beberapa perubahan selama terjadinya gelatinisasi dapat diamati. Mula-mula suspensi pati yang keruh seperti susu tiba-tiba mulai menjadi jernih pada suhu tertentu, tergantung jenis pati yang digunakan. Terjadinya translusi larutan pati tersebut diikuti pembengkakkan granula. Bila energi kinetik molekul-molekul air menjadi lebih kuat daripada daya tarik-menarik antara molekul pati di dalam granula, air dapat masuk ke dalam butir-butir pati. Hal inilah yang menyebabkan bengkaknya granula. Jumlah gugus hidroksil dalam molekul pati yang besar menyebabkan kemampuan pati menyerap air pun besar (Winarno, 2002).
Gelatinisasi adalah perubahan yang terjadi pada granula pada waktu mengalami pembengkakan yang luar biasa dan tidak dapat kembali ke bentuk semula (Winarno, 2002). Gelatinisasi juga disebut sebagai peristiwa koagulasi koloid dengan ikatan rantai polimer atau penyerapan zat terlarut yang membentuk jaringan tiga dimensi yang tidak terputus sehingga dapat mengakibatkan terperangkapnya air dan terhentinya aliran zat cair yang ada di sekelilingnya kemudian mengalami proses pengorientasian partikel (Meyer, 1973).
Suhu gelatinisasi adalah suhu pada saat granula pati pecah. Suhu gelatinisasi berbeda–beda bagi tiap jenis pati dan merupakan suatu kisaran. Dengan viskometer suhu gelatinisasi dapat ditentukan, misalnya pada jagung 62–700C, beras 68-780C gandum 54,5–640C, kentang 58–660C, dan tapioka 52– 640C (Winarno, 2002). Dengan adanya gelatinisasi, terjadi juga perubahan viskositas pati. Viskositas adalah resistansi suatu cairan terhadap alirannya. Pemanasan yang semakin lama akan mengakibatkan viskositasnya semakin tinggi. Pada saat larutan pati mencapai suhu gelatinisasi maka granula-granula pati akan pecah dan molekul-molekul pati keluar dan terlepas dari granula serta masuk dalam sistem larutan. Hal ini menyebabkan viskositas. Amilosa dan amilopektin besar pengaruhnya terhadap viskositas sistem dispersi pati dan air. Gugus hidroksil yang terletak pada salah satu ujung rantai amilosa dan pada ujung rantai pokok amilopektin berperan dalam penarikan air oleh pati karena gugus hidroksil dari pati akan tarik menarik dengan gugus hidrogen dari air. Semakin rendah kadar amilosa dan amilopektin pada pati maka gugus hidroksilnya akan turun sehingga akan menyebabkan gaya tarik-menarik antara pati dengan air menjadi kecil sehingga viskositas yang dihasilkan juga kecil. (Whistler dan Be Miller, 1994 dalam Rakhmawati, 2008).

Proses gelatinisasi dipengaruhi beberapa hal, yaitu:
1.asal pati : meliputi ukuran granula & kandungan amilosa/ amilopektin pati masing-masing bahan, granula ubi kayu berukuran 5-35 mikron dan terdiri dari amilosa 20% dan amolipektin 80% (Meyer, 1973)
2.pH larutan dan suhu air yang ditambahkan : pH optimum 4-7. bila pH terlalu tinggi pembentukan gel cepat tetapi cepat turun lagi. Jika terlalu rendah pembentukan gel lambat. Untuk airnya jika tidak tepat maka tidak terjadi gelatinisasi.
3.konsentrasi pati : makin kental suatu larutan, maka suhu gelatinisasi makin lama tercapai. Konsentrasi terbaik untuk pembentukan gel adalah 20%.
4.penambahan gula : gula akan menurunkan kekentalan dengan mengikat air sehingga suhu gelatinisasi makin tinggi.
5.perlakuan mekanis, seperti pengadukan mempercepat terjadinya suhu gelatinisasi.
6.adanya konstituen organik & anorganik : lipida mampu mempengaruhi suhu gelatinisasi dengan menyelubungi granula pati sehingga menghambat penetrasi air dan amilosa sulit larut yang menyebabkan gel sulit terbentuk.
7.tinggi suhu dan lama pemanasan
(Winarno, 1992)
Faktor-faktor yang mempengaruhi gelatinisasi pati, viskositas, dan karakteristik gel pati menurut Haryadi (1993) dalam Astuti (2000) adalah sebagai berikut :
a. Karakteristik granula pati
Amilosa akan membentuk gel yang tegar. Strukturnya yang linier menyebabkan granula lebih mudah menyerap air dan gel amilosa cepat terjadi pada konsentrasi yang rendah (5%). Sedangkan amilopektin akan membentuk gel yang lembut dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi (30%) karena struktur yang bercabang membuatnya sulit menyerap air.
b. Suhu gelatinisasi
Adalah kisaran suhu saat pengembangan seluruh granula pati. Suhu gelatinisasi dipengaruhi oleh konsentrasi pati dan pH larutan. Konsentrasi pati 20 % dan pH larutan 4-7 akan membentuk gel dengan viskositas yang baik.
c. Bahan-bahan lain yang ditambahkan
1) Gula, garam, dan asam mempunyai kemampuan mengikat air sehingga mengganggu proses gelatinisasi dan suhu gelatinisasi akan meningkat.
2) Lemak membentuk kompleks dengan amilosa sehingga gelatinisasi terhambat dan mengganggu pengembangan granula pati.
3) Protein mempunyai kemampuan mengikat air sehingga mengganggu pengembangan granula pati. Kemampuan mengikat air oleh molekul protein tidak menyebabkan pengembangan, karena komponen utama yang mengembang adalah pati sedangkan protein kurang atau tidak mengembang.
Pengembangan granula pati terjadi apabila energi kinetik dari molekul air lebih besar daripada daya tarik antar molekul pati dalam granula. Sedangkan viskositas gel pati terjadi karena air yang bebas bergerak di luar granula menjadi berada di dalam granula dan tidak bisa bergerak bebas lagi saat suspensi pati dipanaskan. (Winarno, 1992).
Larutan pati kental selama pendinginan dapat membentuk gel yang disebabkan karena molekul-molekul amilosa berantai lurus dapat mengelompok kembali melalui ikatan hidrogen intermolekuler. Pembentukan gel inilah yang disebut retrogradasi. (Whistler dan Be Miller, 1994 dalam Rakhmawati, 2008). Retrogradasi merupakan proses kristalisasi kembali molekul pati yang telah tergelatinisasi. Molekul amilopektin dalam larutan tidak mudah teretrogradasi karena percabangannya dapat mencegah pengelompokan kembali molekul-molekul pati yang telah tergelatinisasi.
Ukuran dan bentuk granula pati serta suhu gelatinisasi dari berbagai sumber pati dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Ukuran dan bentuk granula pati serta suhu gelatinisasi dari berbagai sumber pati
Pati Bentuk Ukuran (mikron) Suhu gelatinisasi (0C)
Beras
Jagung
Tapioka
Gandum
Kentang
Talas
Ubi jalar Poligonal
Poligonal bulat
Bulat
Datar, bulat, elips
Bulat telur
Poligonal
Bulat 3 – 8
5 – 25
5 – 35
2 – 35
15 – 100
3 – 4
5 – 20 68 – 78
62 – 72
52 – 64
58 – 64
58 – 66
72 – 78
58 – 64

Sumber : Rahardjo (1988, dalam Rakhmawati, 2008)

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Table waktu viskositas (detik)
Jenis
Suhu Tapioca Maizena Sagu
60° C 15,6 Detik 10,1 Detik 10 Detik
70° C 14,8 Detik 10,4 Detik 12,4Detik
80° C 13,6 Detik 12,7 Detik 4 menit 8 detik
90° C 14,7 Detik 12,8 Detik ~
70° C 95,7 Detik 12,7Detik ~
50° C 121 Detik 12,6 Detik ~
30° C 170 Detik 12,5 Detik ~
Keterangan. ~ : tidak terhingga
B. Pembahasan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui suhu gelatinisasi pada tepung tapioca, tepung maizena dan sagu. Gel merupakan jaringan tiga dimensi yang bersifat agak padat dan medium terdispersinya terkurung di dalamnya (Meyer, 1973). Pembentukan gel disebut gelatinisasi yaitu peristiwa dimana granula pati mengalami pembengkakan luar biasa karena menyerap air yang banyak dan menyebabkan pecahnya granula pati yang bersifat tidak dapat kembali ke keadaan semula atau biasa disebut irreversible. Suhu pada saat granula pati ini pecah desebut suhu gelatinisasi (winarno, 2002).
Bentuk granula pati tepung maizena lebih kecil sedangkan pada tepung tapioca terlihat lebih lonjong. Langkah yang dilakukan dalam percobaan ini adalah mengambil tepung tapioka dan tepung maizena dan dimasukkan ke dalam 4 gelas beker 100 ml, masing-masing sebanyak ½ sendok teh. Kemudian ditambah dengan air suling sampai terbentuk pasta. Sambil diaduk, pada gelas pertama ditambahkan air suhu kamar, gelas kedua ditambahkan air suhu 60oC, gelas ketiga ditambahkan air suhu 70oC, dan pada gelas keempat ditambahkan air mendidih, masing-masing sebanyak 50 ml. Setelah itu masing-masing dibuat preparat dan ditambahkan larutan iodine encer dan ditutup dengan gelas preparat. Lalu diamati dengan mikroskop dan dibuat gambar tiap preparat serta dibandingkan.
Penambahan air suling dimaksudkan untuk membengkakkan granula pati. Kemudian diaduk agar air suling dapat tercampur dan membentuk pasta. Pembentukan pasta dimaksudkan untuk mempermudah pelarutan pati dalam air berbagai suhu sehingga tidak terjadi penggumpalan karena granula pati telah terhidrasi dan granulanya lebih homogen sehingga dapat mempercepat pemecahan granula dalam mengamati suhu gelatinisasi pati dari tepung tapioka dan tepung maizena.
Pada gelas 1 ditambahkan 50 ml air suhu kamar, gelas ke2 ditambah dengan 50 ml air 600C, gelas 3 ditambah dengan air 50 ml suhu 750C, dan gelas 4 ditambah dengan air 50 ml suhu 1000C. Tujuan ditambahkannya air dalam berbagai suhu adalah untuk mengetahui besarnya pembengkakan granula pati pada tiap-tiap kondisi air yang ditambahkan sekaligus untuk mengetahui suhu gelatinisasi dari masing-masing pati. Penambahan air panas akan menyebabkan granula pati mengalami peningkatan volume menjadi lebih besar. Peningkatan volume granula pati yang terjadi di dalam air pada suhu antara 55-65C merupakan pembengkakan yang sesungguhnya dapat kembali pada kondisi semula (Winarno, 2002). Pengadukan yang dilakukan dimaksudkan agar campuran menjadi homogen.
Buat preparat untuk tepung tapioca dan maizena dengan menambahkan larutan iodine encer. Fungsi penambahan larutan iodin adalah untuk mempermudah pengamatan terhadap granula pati. Struktur pati yang berbentuk spiral akan mengikat molekul iodin dan terbentuklah warna biru atau ungu. Tetapi bila pati dipanaskan, spiral akan meregang dan molekul-molekul iodin akan terlepas sehingga warna biru atau ungu akan hilang (Winarno, 2002). Untuk itu, pada suhu 1000C, warna ungu pada granula maizena dan warna biru pada granula tapioca makin pudar. Granula yang pecah memiliki daya serap warna yang lebih rendah.
Pada granula tapioca dan maizena yang ditambah deengan air suhu kamar, memiliki bentuk granula yang utuh (mantap), warna ungu, granula-granulanya kecil (belum mengalami pebengkakan). Sedangkan granula pati yang ditambah dengan air suhu 600C bertambah kecil dan warna ungu/birunya semakin kuat, bentuknya bulat namun sedikit tidak utuh, waktu pengosongannya semaikn cepat (pada tapioca) dan semakin lambat (pada maizena). Ukuran granula bertambah kecil karena granula mengalami penigkatan energi kinetic sehingga saling mendeesak satu sama lain sehingga sedikit yang terperangkap dalam granula keluar sehingga terjadi penurunan volume. Hal ini menyimpang dari dasar teori. Hali ni disebabkan karena proses pengadukan yang kurang sempurna. Warna yang semakin pekat disebabkan karena air yang keluar dari granula mengakibatkan iod semakin mudah masuk kedalam granula dan warnanya menjadi semakin pekat.
Bentuk granula pati pada tapioca dan maizena yang telah ditambah air suhu 800C semakin membesar. Granula patinya memiliki daya kemampuan untuk menyerap air. Pada suhu 600C, granula pati tidak mampu menerap air (ukuran granulanya semakin kecil). Pada suhu 800C, warnanya ungu tua/biru tua. Bentuk granula pati spiral akan mengikat iod. Menurut teori, suhu semakin tinggi akan mengakibatkan warna pada granula pati akan semakin pudar. Namun, percobaan yang dilakukan justru sebaliknya, warna semakin kuat. Hal ini disebabkan karena granula masih berbentuk spiral. Suhu 800C tidak dapat meregangkann bentuk spiral ini sehingga warna masih terikat kuat. Bentuk spiral yang tidak dapat diregangkan ini disebabkan karena proses pengadukan yang kurang baik sehingga air yang bersuhu 800C itu tidak dapat tercampur merata dengan baik.
Granula pati pada tapioca dan maizena yang telah ditambah air suhu 1000C mulai pecah namunn pada pengamatan tidak terlihat granulanya pecah. Hal ini disebabkan karena granulanya telah lama mengalami perpecahan namun pengamat tidak melihat. Sehingga yang terlihat oleh pengamat adalah butiran yang merupakan hasil perpecahan granula. Warrnanya semakin pudar karena granula yang pecah memiliki daya serap warna yang rendah.
Waktu pengosongan tapioca dan maizena pada suhu yang semakin tinggi seharusnya semakin besar pula, namun percobaan yang dilakukan menyimpang. Pada tapioca, pada suhu 600C waktu pengosongan turun, pada suhu 800C mengalami kenaikan, dan mengalami penurunan pada suhu 1000C. penyimpangan ini terjadi karena kesalahan perhitungan atau disebabkan karena granula pati yang digunakan telah mengalami penurunan kemampuan untuk menyerap air. Pada maizena, waktu pengosongan mengalami kenaikan pada suhu 600C, dan turun pada suhu 800C, dan naik pada suhu 1000C. Kenaikan waktu pengosongan pada suhu 100 C lebih kecil dari pada kenaikan pada suhu 60 C. Hal ini juga menyimpang dari dasar teori. Penyimpangan ini disebabkan karena kesalahan dalam perhitungan atau karena proses pengadukan yang kurang baik sehingga berpengaruh terhadap viskositas. Pada percobaan ini suhu gelatinisasi tapioca dan maizena sekitar 80-1000 C (menyimpang dari dasar teori).
Suhu yang semakin tinggi akan meningkatkan energi kinetic molekul-molekul air sehingga air dapat masuk kedalam granula dan volume granula semakin besar. Semakin besarnya volume granula menyebabkan garnula satu dengan yang lain menjadi lebih dekat (kerapatan granula) sehingga gesekan antar granula dalam larutan tapioca dan maizena makin besar. Gaya gesek yang semakin besar tersebut menyebabkan viskositasnya semakin besar. Dalam percobaan ini mengalami penyimpangan sehingga belum mmampu menunjukkan pengaruuh suhu gelatinisasi terhadap viskositas sesuia dengan teori.

ACARA I
KARBOHIDRAT
REAKSI MAILLARD

PENDAHULUAN

Karbohidrat merupakan produk awal dari proses fotosintesis. Karbohidrat selalu kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Karbohidrat tersusun sebagai polihidroksialdehid atau polihidroksiketon atau zat yang jika yang dihidrolisis menghasilkan salah satu senyawa tersebut. Karbohidrat dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu monosakarida, disakarida, oligosakarida, dan polisakarida.
Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana yang disebut monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Banyak karbohidrat merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta dapat pula bercabang-cabang, disebut polisakarida, misalnya pati, kitin, dan selulosa. Selain monosakarida dan polisakarida, terdapat pula disakarida (rangkaian dua monosakarida) dan oligosakarida (rangkaian beberapa monosakarida).
Monosakarida
Monosakarida merupakan karbohidrat paling sederhana karena molekulnya hanya terdiri atas beberapa atom C dan tidak dapat diuraikan dengan cara hidrolisis menjadi karbohidrat lain. Monosakarida dibedakan menjadi aldosa dan ketosa. Contoh dari aldosa yaitu glukosa dan galaktosa. Contoh ketosa yaitu fruktosa.
Disakarida dan oligosakarida
Disakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari dua molekul monosakarida yang berikatan melalui gugus -OH dengan melepaskan molekul air. Contoh dari disakarida adalah sukrosa, laktosa, dan maltosa.
Polisakarida
Polisakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari banyak sakarida sebagai monomernya. Rumus umum polisakarida yaitu C6(H10O5)n. Contoh polisakarida adalah selulosa, glikogen, dan amilum(shoovng.com,2008)
Karbohidrat di alam terdapat dalam jumlah yang besar, terutama dalam tumbuh-tumbuhan, berkisar antara 60-90 % dari bahan padatnya. Kegunaanya sangat dan meliputi beberapa bidang, antara lain sebagai bahan pangan, sandang, bahan untuk kesehatan dan obat-obatan. Pati, rayon serat, kapas, dan bermacam-macam gula, adalah termasuk senyawa karbohidrat.
Karbohidrat memiliki peranan sangat penting, seperti sebagai sumber energi, lemak, dan pasangan protein. Selain itu sumber karbohidrat sangat mudah dan banyak dijumpai di alam, terutama dalam serelia, sayuran ( kentang dan kacang-kacangan ), buah-buahan susu dan gula murni ( sukrosa ). Oleh karena itu perlu diketahui reaksi-reaksi yang terjadi pada karbohidrat. Salah satu reaksi yang dialami karbohidrat adalah reaksi maillard. Reaksi maillard adalah reaksi antara karbohidrat, khususnya gula pereduksi dengan gugus amina primer. Hasil reaksi tersebut menghasilkan bahan berwarna coklat, yang sering dikehendaki atau kadang – kadang menajdi tanda penurunan mutu bahan (Winarno,1997).

II. PROSEDURE KERJA
a. Alat dan Bahan
– Larutan glukosa 2% – Tabung reaksi
– Larutan sukrosa 2% – Lampu spiritus
– Larutan maltodekstrin 2%
– Larutan gelatin 2% atau kasein 2%
– Larutan NaOH 0,1 N
– Larutan HCl 0,1 N

b. Prosedur Kerja
Disiapkan 3 tabung reaksi.

Tabung 1 : di isi 2 ml larutan glukosa + 2 ml larutan protein
Tabung 2 : di isi 2 ml larutan sukrosa + 2 ml larutan protein
Tabung 3 : di isi 2 ml larutan maltodekstrin + 2 ml larutan protein

Masing-masing dipanaskan di atas lampu spirtus 2-3 menit dibiarkan 5 menit, diamati adanya perubahan warna

Dilakukan seperti prosedur diatas tetapi setiap tabung ditambah 6 tetes larutan NaOH 0,1 N ; paket yang lain dengan 6 tetes HCl 0,1 N

Hasil dari ketiga paket dibandingkan

III. TINJAUAN PUSTAKA
Karbohidrat merupakan komponen pangan yang menjadi sumber energi utama dan sumber serat makanan. Komponen ini disusun oleh 3 unsur utama, yaitu karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Menurut kompleksitasnya karbohidrat digolongkan sebagai berikut:
a.Monosakarida
Monosakarida adalah monomer gula atau gula yang tersusun dari satu molekul gula berdasarkan letak gugus karbonilnya monosakarida dibedakan menjadi : aldosa dan ketosa. Sedang kan menurut jumlah atomnya dibedakan menjadi :triosa , tetrosa, dll. Monosakarida yang mengandung gugus aldehid dan gugus keton dapat mereduksi senyawa-senyawa pengoksidasi seperti : ferrisianida, hidrogen peroksida dan ion cupro. Pada reaksi ini gula direduksi pada gugus karbonilnya oleh senyawa pengoksidasi reduksi. Gula reduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan untuk mareduksi.Sifat mereduksi ini disebabkan adanya gugus hidroksi yang bebas dan reaktif. ( lehninger, 1982)
Kerangka monosakarida adalah rantai karbon berikatan tunggal yang tidak bercabang. Satu diantara atom karbon berikatan ganda terhadap suatu atom oksigen, membentuk gugus karbonil; masing–masing atom karbon lainnya berikatan dengan gugus hidroksil. Jika gugus karbonil berada pada ujung rantai karbon, monosakarida tersebut adalah suatu aldehida dan disebut suatu aldosa; jika gugus karbonil berada pada posisi lain, monosakarida tersebut adalah suatu keton dan disebut suatu ketosa (Lehninger, 1982).
Sedangkan gula non reduksi adalah senyawa gula yang gugus karbonilna berikatan dengan senyawa monosakarida lain sehingga tidak bebas lagi, Misalnya : sukrosa (lehninger, 1982). Sedangkan jumlah keseluruhan gula reduksi dan gula non reduksi adalah gula total.Pada keadaan asam encer, monosakarida bersifat relatif stabil dan pada penambahan asam kuat akan terhidrasi menjadi furfural atau hidroksimetilfurfural. Pada penambahan alkali encer monosakarida dapat mengalami isomerasi atau terbentuk senyawa yang lebih pendek D-manosa dan D-1-fruktosa. Sedang pada penambahan alkali kuat enediol dapat berubah menjadi formaldehid atau pentosa (Winarno, 1992).
b.Disakarida
Tersusun oleh dua molekul monosakarida. Jika jumlahnya lebih dari dua disebut oligosakarida ( terdiri dari 2-10 monomer gula ). Ikatan antara dua molekul monosakarida disebut ikatan glikosidik yang terbentuk dari gugus hidroksil dari atom C nomer 1 yang juga disebut karbon nomerik dengan gugus hidroksil pada molekul gula yang lain. Ada tidaknya molekul gula yang bersifat reduktif tergantung dari ada tidaknya gugus hidroksil bebas yang reaktif yang terletak pada atom C nomer 1 sedangkan pada fruktosa teeletak pada atom C nomer 2. Sukrosa tidak mempunyai gugus hidroksil yang reaktif karena kedua gugus reaktifnya sudah saling berikatan. Pada laktosa karena mempunyai gugus hidroksil bebas pada molekul glukosanya maka laktosa bersifat reduktif (Winarno, 1992).
c.Polisakarida
Polisakarida adalah polimer yang tersusun oleh lebih dari lima belas monomer gula. Dibedakan menjadi dua yaitu homopolisakarida dan heteropolisakarida. Monosakarida dan disakarida mempunyai rasa manis , sehingga disebut dengan “gula”. Rasa manis ini disebabkan karena gugus hidroksilnya,. Sedangkan Polisakarida tidk terasa manis karena molekulnya yang terlalu besar tidak dapat dirasa oleh indera pengecap dalam lidah (Sudarmadji, 1996).
Berdasarkan nilai gizi dan kemampuan saluran pencernaan manusia untuk mencernanya, karbohidrat dapat dikelompokkan menjadi karbohidrat yang dapat dicerna dan karbohidrat yang tidak dapat dicerna. Karbohidrat dari kelompok yang dapat dicerna, bisa dipecah oleh enzim a- amilase untuk menghasilkan energi. Monokasarida, disakarida, dekstrin dan pati adalah kelompok karbohidrat yang dapat dicerna. Karbohidrat yang tidak dapat dicerna (juga dikelompokkan sebagai serat makanan/dietary fiber) tidak bisa dipecah oleh enzima-amilase. Contohnya adalah selulosa, hemiselulosa, lignin dan substansi pektat. Disamping sebagai sumber pemanis, fungsi penting karbohidrat dalam proses pengolahan pangan adalah sebagai bahan pengisi, pengental, penstabil emulsi, pengikat air, pembentuk flavor dan aroma,pembentuk tekstur dan berperan dalam reaksi pencoklatan. Salah satu bentuk reaksi pencoklatan adalah reaksi maillard.
Reaksi Maillard merupakan pencoklatan (browning) makanan pada pemanasan atau pada penyimpanan, biasanya diakbitkan oleh reaksi kimia antara gula reduksi, terutama D-glukosa, dengan asam amino bebas atau gugus amino bebas dari suatu asam amino yang merupakan bagian dari suatu rantai protein. Reaksi Maillard ini lebih cepat terjadi pada suhu yang tinggi, reaksi Maillard ini menghasilkan suatu produk yang biasa disebut Amadori Compound. Selama pemanasan, gugus karbonil dari karbohidrat akan bereaksi dengan gugus amino dari asam amino atau peptide. Reaksi ini akan menghasilkan berbagai senyawa berbeda tergantung pada jenis asam amino dan gula yang terdapat dalam makanan. Selain berpengaruh terhadap warna, reaksi maillard juga berkontribusi terhadap flavour dan aroma makanan.
Apabila terjadi reaksi Maillard maka bahan pangan kemungkinan akan menurun nilai gizinya. Reaksi Maillard juga dapat menghasilkan senyawa toksik senyawa tersebut adalah senyawa yang termasuk kedalam kelompok amin heterosiklik yang dikenal dengan nama imodazaquinolin (IQ) dan imidazaquinoxalin (IQx). Namun ada pula warna coklat hasil reaksi maillard yang dikehendaki, contohnya warna coklat pada pembuatan sate dan pemanggangan daging adalah warna coklat yang dikehendaki, demikian juga pada penggorengan ubi jalar dan singkong serta pencoklatan yang indah dari berbagai roti. Gugus amina primer biasanya terdapat pada bahan awal sebagai asam amino (Winarno,1997).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
Paket Larutan Perubahan setelah dipanaskan
1 Glukosa + Protein
Sukrosa + Protein
Maltodekstrin + Protein Larutan jernih (tidak ada perubahan)
Larutan jernih (tidak ada perubahan)
Larutan jernih (tidak ada perubahan)
2 Glukosa + Protein + NaOH
Sukrosa + Protein + NaOH
Maltodekstrin + Protein + NaOH Larutan berwarna kuning tua
Larutan jernih (tidak ada perubahan)
Larutan berwarna kuning muda
3 Glukosa + Protein + Hcl
Sukrosa + Protein + Hcl
Maltodekstrin + Protein + Hcl Larutan jernih (tidak ada perubahan)
Larutan jernih (tidak ada perubahan)
Larutan jernih (tidak ada perubahan)

B. Pembahasan

IDENTIFIKASI PESTISIDA
(ACARA II)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk memperoleh hasil produk tanaman yang berkualitas kita harus melindungi tanaman dari organisme penganggu tanaman. Organisme pengganggu tanaman dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu biotic dan abiotik. Kadangkala ada beberapa jenis organisme pengganggu tanaman abiotik yang sulit untuk dikendalikan, untuk itu perlu diadakannya penggunaan pestisida. Pestisida merupakan bahan kimia yang berfungsi untuk mengendalikan, membasmi atau memberantas organisme pengganggu tanaman. Dalam praktikum kali ini kita membahas berbagai jenis pestisida.

B. Tujuan
Mengenal beragai macam jenis pestisida dan cara aplikasinya.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (“hama”) yang diberi akhiran cide (“pembasmi”).
Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikroba yang dianggap menggangu.Pestisida biasanya berbahaya, tapi tak selalu beracun. Dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai “racun”.
Tergantung dari sasarannya, pestisida dapat berupa:
 insektisida (serangga)
 fungisida (fungi/jamur)
 rodentisida (hewan pengerat/Rodentia)
 herbisida (gulma)
 akarisida (tungau)
 bakterisida (bakteri)
Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta dapat merusak ekosistem.
Dalam praktek, pestisida digunakan bersama-sama dengan bahan lain misalnya dicampur minyak untuk melarutkannya, air pengencer, tepung untuk mempermudah dalam pengenceran atau penyebaran dan penyemprotannya, bubuk yang dicampur sebagai pengencer (dalam formulasi dust), atraktan (misalnya bahan feromon) untuk pengumpan, bahan yang bersifat sinergis untuk penambah daya racun, dsb.
Karena pestisida merupakan bahan racun maka penggunaanya perlu kehati-hatian, dengan memperhatikan keamanan operator, bahan yang diberi pestisida dan lingkungan sekitar. Perhatikan petunjuk pemakaian yang tercantum dalam label dan peraturan-pearturan yang berkaitan dengan penggunaan bahan racun, khususnya pestisida.
Penggolongan menurut asal dan sifat kimia
A. Sintetik
1) Anorganik : garam-garam beracun seperti arsenat,flourida, tembaga sulfat dan garam merkuri.
2) Organik :
• Organo khlorin : DDT, BHC, Chlordane, Endrin.
• Heterosiklik : Kepone, mirex.
• Organofosfat : malathion, biothion.
• Karbamat : Furadan, Sevin.
• Dinitrofenol : Dinex.
• Thiosianat : lethane.
• Sulfonat, sulfida, sulfon.
• Lain-lain : methylbromida.

B. Hasil alam : Nikotinoida, Piretroida, Rotenoida
Cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga:
• Melalui dinding badan, kulit (kutikel)
• Melalui mulut dan saluran makanan (racun perut)
• Melalui jalan napas (spirakel) misalnya dengan fumigant
Jenis racun pestisida
Dari segi racunnya pestisida dapat dibedakan atas:
1. Racun sistemik, artinya dapat diserap melalui sistem organisme misalnya melalui akar atau daun kemudian diserap ke dalam jaringan tanaman yang akan bersentuhan atau dimakan oleh hama sehingga mengakibatkan keracunan bagi hama.
2. Racun kontak, langsung dapat menyerap melalui kulit pada saat pemberian insektisida atau dapat pula serangga target kemudian kena sisa insektisida (residu) insektisida beberapa waktu setelah penyemprotan.
Syarat syarat pestisida yang ekonomis:
1. Efektif – memiliki daya mematikan hama yang tinggi
2. Aman terhadap manusia terutama operator, juga hewan ternak dan komponen lingkungan lainnya, cukup selektif (tidak membunuh jasad yang bukan sasaran), kurang persisten, tidak menyebabkan biomagnifikasi.
3. Ekonomis, efektif, efisien : broad spectrum (dapat digunakan untuk berbagai hama), cukup spesifik, dan relatif tidak mahal.
Penggunaan pestisida berbahan dasar zat kimia sudah umum diterapkan. Memakai bahan kimia cara yang ampuh untuk membasmi berbagai jenis hama. Namun dapat juga menimbulkan bahaya, apalagi dengan takaran yang berlebihan. Kesuburan tanah jadi berkurang, serta pestisida kimia berbentuk cair itu bisa meresap di permukaan daun atau buah. Untuk mencegah pengaruh buruk itu, sebaiknya menggunakan pestisidab alami yang tidak berbahaya.
“Pestisida alami itu adalah bahan-bahan yang berasal dari alam. Ia memanfaatkan jenis tumbuhan yang memiliki kelebihan mengusir hama, penyakit, dan binatang.
Pestisida alam ini dikenal juga dengan pestisida nabati. Merupakan bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang bisa digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan. Pestisida nabati ini bisa berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh, dan bentuk lainnya.
Secara umum, pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas. Karena terbuat dari bahan alami atau nabati, maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam, sehingga tak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan, karena residu (sisa-sisa zat) mudah hilang.
Di Indonesia ada banyak jenis tumbuhan penghasil pestisida nabati. Bahan dasar pestisida alami ini bisa ditemui di beberapa jenis tumbuhan, dimana zat yang terkandung di masing-masing tumbuhan memiliki fungsi berbeda ketika berperan sebagai pestisida. Dalam fisiologi tumbuhan, ada beberapa jenis tumbuhan yang berpotensi untuk dijadikan bahan pestisida. Tumbuhan itu dikelompokkan menjadi % kelompok, yaitu :
1. Kelompok tumbuhan insektisida nabati. Merupakan kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama insekta. Bengkoang, serai, sirsak, dan srikaya diyakini bisa menanggulangi serangan serangga.
2. Kelompok tumbuhan antraktan atau pemikat. Di dalam tumbuhan ini ada suatu bahan kimia yang menyerupai sex pheromon pada serangga betina dan bertugas menarik serangga jantan, khususnya hama lalat buah dari jenis Bactrocera dorsalis. Tumbuhan yang bisa diambil manfaatnya, daun wangi (kemangi), dan selasih.
3. Kelompok tumbuhan rodentisida nabati, kelompok tumbuhan yang menghasilkan
pestisida pengendali hama rodentia. Tumbuh-tumbuhan ini terbagi jadi dua jenis, yaitu sebagai penekan kelahiran dan penekan populasi, yaitu meracuninya. Tumbuhan yang termasuk kelompok penekan kelahiran umumnya mengandung steroid. Sedangkan yang tergolong penekan populasi biasanya mengandung alkaloid. Jenis tumbuhan yang sering digunakan sebagai rodentisida nabati adalah gadung racun.
4. Kelompok tumbuhan moluskisida adalah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama moluska. Beberapa tanaman menimbulkan pengaruh moluskisida. Diantaranya daun sembung dan akar tuba.
5. Satu lagi, kelompok tumbuhan pestisida serba guna, dimana kelebihan kelompok ini tak hanya berfungsi untuk satu jenis. Misalnya insektisida saja, tapi juga berfungsi sebagai fungisida, bakterisida, moluskisida, dan nematisida. Tumbuhan yang bisa dimanfaatkan dari kelompok ini, yaitu jambu mete, lada, tembakau, dan cengkeh. Tembakau bisa jadi bahan pestisida alami karena dalam tembakau terdapat nikotin, dimana zat ini merupakan 0,3-5% dari berat kering tembakau yang berasal dari hasil biosintesis di akar dan diakumulasikan di daun. Nikotin merupakan racun syaraf yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis insektisida atau pengendali serangga.(Dani Adi Suryo.2008).

III. METODE PRAKTIKUM
Alat dan Bahan
1. Berbagai jenis pestisida yang tersedia di pasaran
2. Lembar pengamatan
3. Alat tulis

Cara Kerja
Mengindentifikasi tiap jenis pestisida meliputi: nama merek, bentuk, tanaman, bahan aktif dosis atau konsentrasi, cara penggunaan, dan keterangan yang relevan.

Mengklasifikasikan jenis pestisida yang telah diidentifikasi

IV. HASIL PENGAMATAN
NO Nama Merek Bahan Aktif / Komposisi Tanaman Gulma / Hama / Penyakit Dosis dan Volume semprot Keterangan
1, Ally Plus
(Herbisida) – Metil metsulfuran 0,7%
– Etil klorimuron 0,7%
– 2,4D garam natrium 75%
Bentuk WP Padi

Lahan tanpa tanaman

Persiapan tanam padi sawah tanpa olah tanah Aplikasi semprot :
Gulma berdaun lebar:
Monochoria vaginalis,
Marsilea crenata,
Jussiaea octovalis
Gulma berdaun sempit:
Teki,
Fimbristylis miliacea,
Cyperus difformis
Aplikasi tabur :
Gulma berdaun lebar :
Marsilea crenata

Gulma berdaun lebar :
Mikania cordata,
Ageratum conyzoides,
Croton hirtus,
Stacytarpheta indica,
Borreria alata

Gulma berdaun sempit:
Eleusine indica,
Paspalum commersonni

Gulma berdaun lebar :
Lymnocharis flava
Commelina diffusa
Cyperus difformis

Dosis : 320- 640 g/ha
Volume semprot : 180
– 240 l/ha
Dosis : 320- 640 g/ha

Dosis : 375- 750 g/ha
Volume semprot : 400 l/ha
Dosis: 375- 750 g/ha

Dosis : 750- 1500 g/ha

Dosis : 375- 750 g/ha

Dosis : 1500 g/ha

Semprotkan pada tanaman yang berumur 5- 21 hari.

Sebelum penyemprotan, keluarkan air dari petakan sampai macak- macak. Masukkan air ke dalam petakan 3 hari setelah penyemprotan.
Satu musim tanam disemprot satu kali
Taburkan dicampur dengan pupuk, pada saat tanaman berumur 6- 9 hari.
Masukkan ke dalam petakan segera setelah penaburan selama 3- 5 hari.
Aplikasi dilakukan satu kali pada saat penutupan gulma di lapangan mencapai 75%.
Aplikasi dilakukan satu kali pada saat penutupan gulma di lapangan mencapai 75%.
Aplikasi dilakukan pada saat 2 minggu setelah panen tanaman sebelumnya atau 2 minggu sebelum tabor benih
2. Besmor 200
(Pestisida) Polioksietilen alkil aril eter 207,4 g/l
Bentuk EC Dosis : 0,3- 0,6 ml/l Bahan perata dan perkat berwarna kuning terang berbentuk larutan dalam air yang dapat dicampur dengan pestisida lain dengan tujuan untuk meratakan penyebaran dan merekatkan larutan semprot pestisida.

Tujuan penggunaan : Meratakan penyebaran dan merekatkan larutan semprot pestisida pada permukaan daun atau bagian tanaman.
Waktu aplikasi: Disesuaikan dengan penyemprotan pestisida, waktu aplikasi terakhir adalah sebelum tanamn dipanen atau hasil pertanian dikonsumsi.
Cara aplikasi : Dicampurkan dengan larutan semprot pestisida
3. Regent
(Insektisida) Fipronil 0,3%
Bentuk butiran Padi

Bawang merah

Tebu Hama penggerak batang
(Tryporyza innotata)

Hama Orong- orong
(Gryllotalpa sp.)

Hama penggerak pupuk
(Scirpophaga nivella) Dosis : 10 kg/ha

Dosis : 10- 15 kg/ha

Dosis : 20- 25 kg/ha Ditabur merata di pertanaman atau dicampur pupuk pada umur 15- 20 hari setelah tanam.
Ditabur merata di pertanaman atau dicampur pupuk pada umur 1 minggu setelah tanam.
Ditabur merata pada tanaman berumur 2- 3 bulan.

Regent
berbentuk butiran berwarna ungu, berdaya racun kontak dan lambung untuk mengendalikan hama tanaman padi, tebu, dan bawang merah.
4, Marshal 25 ST
(Insektisida) Karbosulfan 25, 53%
Bentuk powder Padi gogo

Jagung

Kedelai Atherigona oryzae

Atherigona exigua

Agromyza spp. Dosis : 20 gr/ 1kg benih
Dosis : 20 gr/ 1kg benih
Dosis : 20 gr/ 1kg benih Marshal 25 St adalh insektisida karbamat yang bekerja sebagai racun lambung dan kontak yang sistemik berbentuk bubuk warna merah muda untuk mengendalikan hama lalat bibit pada tanaman padi gogo, jagung, dan kedelai dengan cara perlakuan benih. Marshal 25 ST tidak boleh dicampur dan digunakan dengan pestisida lain yang bersifat asam.
5.
Dithanae M- 45
(Fungisida) Mankozeb 80%
Bentuk tepung Apel

Bawang

Bawang merah

Bawang putih

Cabai

Cengkeh

Kakao

Kacang tanah

Karet

Kedelai

Kalapa

Kentang

Kina

Kopi

Padi

Vanili

Petsal

rosela

teh

tembakau

tomat

Penyakit becak daun
Marsonina coro naria
Penyakit becak ungu
Alternaria alii
Penyakit becak ungu
Alternaria porri
Penyakit becak ungu
Alternaria porri
Penyakit becak daun
Carcospora capuci
Penyakit becak daun
Cylindrocladium quinqueseptatum pada pembibitan
Penyakit busuk buah
Phytophthora balmivora
Penyakit becak daun
Carcospora arachidilda
dan C. Personada

Penyakit gugur daun pada pembibitan
Coliefrotrichum gloesprorioides

Penyakit karat
Phakopsora pachyrhizl

Penyakit becak daun
Fusarium sp.
Gloeeosporium sp.
Dan Pestalotia sp

Penyakit becak daun
Fusarium sp.
Gloeeosporium sp.
Dan Pestalotia sp

Penyakit mofog
Rhizoctonia solani
Penyakit karat daun
Hemileia vastatrix
Penyakit becak daun
Cercospora oryzae
Penyakit busuk batang
Nectria vanilla

Penyakit becak daun
Altenaria orassicae

Penyakit busuk kaki
Phytophthora parasitila
Penyakit cacar daun
Exobasidium vexans

Penyakit rebah batang -Phythophthora parasitica var,
-Niconanae
-Rhizoctonia solani
-Pythium spp.

Penyakit busuk daun
Phythopthora infestans
Dosis : 1,5- 3 gr/l

Dosis : 1- 2 kg/ha
Volume semprot : 500- 1000 l larutan/ha
Dosis : 3- 6 gr/l

Dosis : 3- 6 gr/l

Dosis : 3- 6 gr/l

Dosis : 1- 1,8 kg/ha
Volume semprot : 500-900liter larutan/ha
Dosis : 0,8- 1,2 kg/ha
Volume semprot : 500-900liter larutan/ ha
Dosis : 1- 2 kg/ha
Volume semprot : 500-900liter larutan/ha
Dosis :1,5- 3 gr/l

Dosis : 2 gr/l air
Volume semprot : 100-600liter larutan/ha

Dosis : 1,2- 2,4 kg/ha
Volume semprot : 400-1000liter larutan/ha
Dosis : 4,5- 6,3 kg/ha
Volume semprot : 23-35liter larutan/100 m2
Dosis : 0,3- 0,6 kg/ha
Volume semprot : 100-600liter larutan/100m2
Dosis : 1,5- 3 gr/l

Dosis : 0,9 kg/ha
Volume semprot : 100-600liter lar/100m2
Dosis : 1- 2 kg/ha
Volume semprot : 500-900literlar/ha
Dosis : 1,5- 2,7 kg/ha
Volume semprot : 500-900literlar/ha
Dosis : 0,42- 0,84 kg/ha
Volume semprot : 300-400literlar/ha
Pada persemaian :
Dosis: 45-70 gr/100m2
Volume semprot : 30-50 liter lar/ha
Pada lapangan :
Dosis: 1,6-3,2 kg/ha
30-50 liter lar/ha
Dosis : 1,6-2,4kg/ha
Volume semprot : 400- 1000liter lar/ha Fungisida protektif berbentuk tepung berwarna kuning keabu- abuan yang dapat disuspensikan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman :
1. Apel
2. Bawang
3. Bawang merah
4. Bawang putih
5. Cabai
6. Cengkeh
7. Kakao
8. Kacang tanah
9. KaretKedelai
10. Kelapa
11. Kentang
12. Kina
13. Kopi
14. Padi
15. Vanili
16. Petsal
17. Rosela
18. Teh
19. Tembakau
20. Tomat
Petunjuk pemakaian : Semprotan harus diarahkan kepada semua bagian tanaman secara merata. Penambahan 2- 4 ml ml LatronTM 750 SZ per 10liter larutan sangat dianjurkan untuk mendapatkan hasil pengendalian lebih maksimal
6. Basmilang 480 AS
(Herbisida) Isopropilamina glifosat 480 gr/l
(setara dengan glifosat 356 gr/l ) Karet (TBM)
Kelapa sawit (TBM)
Lahan tanpa tanaman
Padi sawah (TOT) Alang- alang dan gulma di pertanaman karet, kelapa sawit, lahan tanpa tanaman, dan padi sawah
7. Dragon 25 EC
(Insektisida) Lambda cyhalothrin 25gr/l Cabai Hama ulat grayak
Spodoptera litura Dosis : 0,5- 1 ml/t
8. Agrept 20 WP
(Bakterisida) Sterptomisin sulfat 20% Tomat

Tembakau
Layu bakteri
Pseudomonas solanecearum

Layu bakteri
Batang Berlubang (Erulinia carotovora) Konsentrasi : 1- 2 gr/l air

Konsentrasi : 2- 2,5 gr/l air Cara dan waktu : Penyemprotan dilakukan apabila terlihat gejala serangan dini/ mulai umur 21 hari setelah tanam, dilanjutkan sampai 5- 8 kali tergantung perkembangan penyakit dengan selang waktu 7hari.
Cara dan waktu : Penyiraman dilakukan 5 kali yaitu lahan sebelum tanam dilanjutkan pada umur 7, 14, 21, dan 28 hari sebanyak 50ml larutan/ pohon
9. Bayer 75 WP
(Insektisida) Trodikarb 75% Bawang merah

Cabai

Jagung

Kakao

Kapas

Kedelai

Kubis

Padi gogo

Tembakau
Ulat grayak
(Spodoptera exigua)

Kutu daun (Myzas periscae)

Lalat bibit
Astherigona sp
Penghisap buah
Helopeltis antonii
Penggerak buah
Earlas sp.
Penggerak pucuk
Heliothis sp.
Lalat bibit : Agromyza sp.
Penggulung daun : Lamprosema indicate
Perusak daun : Phaedonia inclusa, Plusta chalcites
Penghisap polong : Riptortus linearis,
Kepik hijau :
Nezara viridula
Ulat grayak :
Spodoptera litura
Perusak daun : Plutella xylostella, Crocidolomia binotallis
Lalat bibit
Atherigona sp.

Penggerak pucuk :
Hellothis sp.

Ulat grayak : Spodoptera linra Dosis : 1- 2gr/l
Penyemprotan volume tinggi
Dosis : 1- 2gr/l
Penyemprotan volume tinggi
Dosis : 10- 20 gr/l
Perlakuan benih
Dosis : 0,5 kg/ha
Penyemprotan volume tinggi.

Dosis : 1- 2 kg
Penyemprotan volume tinggi

Dosis : 10- 20 gr/kg benih
Volume semprot : 2- 3 gr/l
Penyemprotan volume tinggi
Dosis : 1- 1,5 kg/ ha
Penyemprotan volume tinggi
Dosis : 10- 20 gr/ kg benih
Dosis : 0,5- 1 kg/ha
Penyemprotan volume tinggi
Insektisida racun kontak dan lambung berbentuk tepung berwarna putih yang dapat disuspensikan, digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman:
1. Bawang merah
2. Cabai
3. Jagung
4. Kako
5. Kapas
6. Kedelai
7. Kubis
8. Padi gogo
9. Tembakau
10. Atonik Natrium ortho- nitrofenol 2,0 gr/l
Natrium para-nitrofenol 3,0 gr/l
Natrium 2-4 dinitrofenol 0,5 gr/l
Natrium 5- nitrogualakol 1,0 gr/l
Cabai merah

Padi

-Untuk meningkatkan jumlah bobot buah
-Menghambat dan menekan

-Menurunkan kadar
-Menghambat hawar upih daun
Konsentrasi formulasi dalam ml/l :
Untuk meningkatkan jumlah bobot buah = 1- 1,5
Untuk menghambat dan menekan hama : 1- 1,5
Konsentrasi formulasi dalam ml/l :
Untuk menurunkan kadar : 1- 1,5
Untuk menhambat hawar upih daun : 1- 1,5 Zat pengatur tumbuh tanaman (ZPT) untuk meningkatkan jumlah bobot buah :
1. Cabai merah
2. Padi
3. Tomat

11. Saromyl 35 SD
(Fungisida) Metalaksil 35% Benih Jagung

Tembakau Penyakit Buai (Peronosclesospora maydis)

Penyakit Lanas ( Black shank) Konsentrasi formulasi :
1,25-2,5 g/kg benih

2g/l Cara aplikasi dan volume semprotan :
Larutkan dalam 8 ml air, campur dengan 1kg benih jagung.
Waktu dan Interval aplikasi:
Sebelum benih ditanam dicampur dengan merata, dikeringkan, benih siap ditanam.
Cara aplikasi dan Volume semprotan :
Penyiraman pada lubang tanam 50ml/lubang tanam.
Waktu dan Interval aplikasi:
Sehari sebelum pindah tanam
12. Furadan
(Insektisida/Nematisida)
Karbofuran 3%
Padi sawah

Padi gogo
Kentang

Tomat

Kapas

Tembakau

Cengkeh

Jeruk

Lada

The

Tebu

Penggerek batang dan lalat daun
Wereng hijau
Ganjur

Lundi/uret
Nematoda bintil akar

Nematoda bintil akar

Lundi/uret

Perusak daun

Ulat grayak

Nematoda bintil akar

Penggerek batang

Nematoda

Nematode bintil akar
Nematode

Penggerek batang
4 kg/ 25 kg benih

17 kg/ ha

17 kg/ ha
17 kg/ ha
2-4 gr/lubang
(60-100 kg/ ha)
2-4 gr/lubang
(60-100 kg/ ha)
1,5-2gr/lubang
(60-75 kg/ha)

10-15 gr/m2
10-15gr/m2
2gr/lubang
(30-40 kg/ha)
100gr/tanaman

34kg/ha

30-50gr/tanaman
40-60kg/ha
25kg/ha atau 30 butir/tanaman Waktu aplikasi:
Penaburan di pesemaian.
Penaburan pada tanah.
Penaburan pada tanah.

Penaburan pada tanah.
Penaburan pada tanah atau di lubang tanam.

Penaburan pada tanah atau di lubang tanam.
Penaburan pada tanah atau di lubang tanam.

Penaburan di pesemaian atau dilubang tanam.

Penaburan pada tanah di sekeliling tanaman dengan jarak 20-30 cm dari batang.
Dicampur dengan tanah sedalam 10-15cm.
Penaburan pada lubang tanam.
Penaburan di persemaian
Penaburan pada tanah atau penyuntikan tepat 25cm di bawah sendi daun pertama tanaman terserang.
13. Metsulindo 20WP (herbisida) Metal metsufuron 20% Padi Gulma berdaun sempit

Gulma berdaun lebar 10-20 g/ha
Penyemprotan volume tinggi 250L/ha
7-14 hari setelah penanaman.

14. Larvin (insektisida) Tiodikarb 75% Bawang merah
Cabai

Jagung

Kakao

Kapas

Kedelai

Kubis

Padi gogo

Tembakau
Penyemptoyan volume tinggi
Penyemptoyan volume tinggi
Perlakuan benih
Penyemptoyan volume tinggi
Penyemptoyan volume tinggi
Perlakuan benih
Penyemptoyan volume tinggi
Perlakuan benih
Penyemptoyan volume tinggi

V. PEMBAHASAN
Pestisida adalah bahan kimia yang berfungsi untuk menolak, mengurangi, atau membasmi organisme pengganggu tanaman. Apabila berbagai cara yang telah dilakukan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman sudah dilakukan namun belum juga menunjukkan hasil yang baik, biasanya petani atau penanam menggunakan pestisida, bahan kimia yang sangat ampuh untuk mengendalikan organism pengganggu tanaman. Dalam praktikum kali ini kita membahas berbagai macam jenis pestisida. Dari data pengamatan diatas, diketahui kurang lebih sekitar 14 jenis pestisida berada di dalam laboraturium budidaya. Masing – masing dari jenis pestisida memiliki kandungan dan bahan aktif yang berbeda sehingga masing – masing memiliki manfaat yang berbeda pula. Selain itu bentuk pestisida tidaklah sama, ada yang dalam bentuk cair, bubuk atau padat sehingga berbeda pula cara penggunaannya. Dalam penggunaan pestisida , perlu diperhatikan dosis dan konsentrasinya. Agar tidak terjadi pemakaian secara berlebihan. Penggunaan jenis pestisida tergantung pada organisme sasaran. Sehingga dalam penggunaan jenis pestisida sangat perlu diperhatikan organisme pengganggu tanaman dan jenis tanamannya, agar tepat sasaran.
VI. KESIMPULAN
– Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk menolak mengendalikan, memikat, atau membasmi oraganisme penggangu.
– Jenis-jenis pestisida adalah insektisida, fungisida, rodentisida, herbisida, akarisida, dan bakterisida.
– Pestisida diformulasikan dalam berbagai bentuk yaitu cair, tepung atau powder, fumigansia.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Ekha, Isvasta.1988. Dilems Pestisida Tragedi Revolusi Hijau. Kanisius: Yogyakarta
Sudarmo, Subiakto. 1991. Pestisida. Kanisius: Yogyakarta.
Wardojo, S. 1977. Aspek Pestisida di Indonesia. Lembaga Pusat Penelitian Pertanian: Bogor.

Laman

Desember 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Komentar Terbaru

ceeva di Reaksi maiLLard puna ceev…