Ceeva’s Blog

Gizi Kurang puna ceeVa

Posted on: 19 Januari 2010

TUGAS TERSTRUKTUR
PANGAN DAN GIZI
Timbulnya Masalah Pangan dan Gizi Kurang di wilayah Perkotaan dan Desa serta Pengaruhnya terhadap Kesehatan

Disusun oleh :
1. M. Yogi (A1M008013)
2. Cindy Faulin S. (A1M008027)
3. Nindya Ratri P . (A1M008041)
4. Bunga Beta Putri A. P. (A1M008048)
5. Nur Arifah Qurota A. (A1M008054)
6. Anggi Priyandari (A1M008057)
7. Anggitasari (A1M008058)
8. Fitri Aprianti (A1M008079)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
PURWOKERTO
2009

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Illahi Robbi atas terselesaikannya tugas terstruktur membuat makalah tentang kekurangan pangan dan gizi ini. Kami mengucapkan terima kasih yang begitu besar kepada semua pihak yang telah mendukung dengan waktu dan tenaga dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini bertujuan untuk membahas dan menggali lebih dalam tentang fenomena kekurangan pangan dan gizi yang sudah lama menjamur khususnya di negeri kita tercinta, Indonesia. Negeri yang terkenal dengan negeri gemah ripah loh jinawi ini justru mengalami kekurangan pangan yang mengakibatkan buruknya gizi, tentunya hal ini sangatlah pantas untuk kami angkat dalam makalah ini. Selainitu sudah sangat kami upayakan agar di dalamnya terdapat pemahaman tentang pengaruh kekurangan pangan dan gizi terhadap kesehatan. Sehingga kami harapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Meskipun sudah kami usahakan menyusun makalah yang terbaik tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak yang berkepentingan.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
Bab 1 PENDAHULUAN
Bab 2 ISI
A. PENGERTIAN
B. MASALAH PANGAN DAN GIZI
C. MASALAH PANGAN DAN GIZ KURANG
D. PENYEBAB TIMBULNYA MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG
E. AKIBAT MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG
F. SOLUSI MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG

BAB I . PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Pangan adalah hal yang sangat penting untuk kehidupan. Supaya sehat dan cukup
gizi, kita harus memperoleh pangan yang cukup beragam, berkualitas serta aman. Tanpa zat gizi yang memadai, anak–anak tidak dapat mengembangkan potensi mereka secara penuh dan orang dewasa akan mengalami kesulitan dalam memelihara dan mengembangkan kemampuan mereka.
Pangan memberi kita energi yang kita butuhkan untuk pertumbuhan, kegiatan fisik dan fungsi dasar tubuh (bernapas, berpikir, mengatur suhu, sirkulasi darah dan pencernaan). Pangan juga menyediakan untuk kita bahan–bahan yang diperlukan untuk membangun, memelihara dan meningkatkan kemampuan tubuh melawan penyakit.
Fungsi yang beragam itu dimungkinkan oleh peranan zat gizi yang terkandung dalam
pangan. Jenis zat gizi dalam pangan adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Semua makanan mengandung satu atau lebih zat gizi tersebut dalam jumlah yang
beragam. Setiap jenis zat gizi mempunyai fungsi khusus. Inilah sebabnya pangan penting bagi kesehatan. Kita semua membutuhkan zat gizi, yang disediakan oleh ketersediaan pangan, untuk semua proses tubuh kita.
Namun sangat disayangkan kondisi sulit yang diderita oleh beberapa Negara khususnya Negara tercinta kita, Indonesia, mengakibatkan meningkatnya harga pangan, menurunnya bantuan pangan internasional dan bertambahnya pengangguran, serta rendahnya pendapatan. Hal ini menyebabkan rendahnya ketersediaan pangan untuk kalangan tertentu. Rendahnya daya beli juga akan memicu terjadinya kekurangan pangan untuk kalangan tertentu. Masalah rawan pangan ibarat bola liar yang sulit dikontrol. Di negara kita sendiri sebagai negara agraris dan dikenal memiliki tanah yang subur, ternyata sebagian penduduknya mengalami kelaparan. Hal yang satu ini menjadi problem besar sejak Indonesia merdeka 56 tahun lalu. Lagu Kolam Susu Koes Plus yang menggambarkan betapa suburnya negara kita sehingga tongkat kayu dan batu pun tumbuh menjadi tanaman, menjadi kontradiktif dengan jeritan kelaparan penduduk yang datang dari berbagai daerah. Kurang pangan dapat mempengaruhi kesehatan tubuh yang berujung pada kematian. Hal ini menunjukkan rapuhnya ketahanan pangan yang selama ini di dengung – dengungkan oleh pemerintah. Kurang pangan bukan hanya di alami oleh kalangan bawah atau masyarakat desa saja. Masyarakat menengah ke atas dan masyarakat kota pun bisa mengalami kekurangan pangan apabila terjadi kondisi yang tidak diinginkan seperti banjir dan gempa.
Kekurangan pangan secara otomatis akan memunculkan masalah baru yaitu masalah kekurangan gizi. Masalah gizi kurang dikenal sebagai masalah yang multikompleks karena banyak sekali factor penyebabnya. Gizi kurang terjadi karena defisiensi atau ketidakseimbangan energi/zat gizi. Gizi, merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumberdaya manusia. Sehingga kekurangan gizi juga dapat berpengaruh pada kesehatan tubuh. Masalah kurang gizi merupakan salah satu sindrom kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan juga menyangkut aspek pengetahuan serta perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat. Baik masalah kekurangan pangan maupun kekurangan gizi, keduanya memunculkan dampak yang buruk. Kurang pangan dapat meningkatkan angka kematian tiap tahunnya sedangkan kurang gizi bukan hanya buruk bagi kesehatan tubuh tetapi juga buruk untuk perkembangan IQ anak. Sehingga mau tidak mau masalah kurang gizi ini menjadi momok yang menakutkan bukan hanya pada saat ini tetapi berpengaruh juga pada masa depan, karena Bangsa Indonesia terancam kehilangan generasi Bangsa yang cerdas. Kekurangan gizi bukan hanya terjadi pada orang – orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, orang – orang kota yang hidupnya serba berkecukupan dapat mengalaminya apabila memiliki pengetahuan yang sangat minim tentang gizi.

BAB II
ISI

A. PENGERTIAN
Pangan
Menurut UU Pangan No.7 Tahun 1996, Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang di peruntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan yang digunakan dalam proses pengolahan dan atau pembuatan makanan dan minuman.
Gizi Pangan
Menurut UU Pangan No.7 Tahun 1996, Gizi pangan adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vtamin, dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.
Berdasarkan pengertian pangan dan gizi pangan diatas, jika membahas pangan pasti erat kaitannya gizi, begitu pula sebaliknya. Karena antara pangan dan gizi pangan terdapat suatu keterkaitan satu sama lain yang tidak bisa dipisahkan (saling berhubungan).

B. MASALAH PANGAN DAN GIZI
Pangan adalah hal yang sangat penting untuk kehidupan. Supaya sehat dan cukup gizi, kita harus memperoleh pangan yang cukup beragam, berkualitas serta aman. Tanpa zat gizi yang memadai, anak–anak tidak dapat mengembangkan potensi mereka secara penuh, dan orang dewasa akan mengalami kesulitan dalam memelihara dan mengembangkan kemampuan mereka. Pangan memberi kita energi yang kita butuhkan untuk pertumbuhan, kegiatan fisik dan fungsi dasar tubuh (bernapas, berpikir, mengatur suhu, sirkulasi darah dan pencernaan). Pangan juga menyediakan untuk kita bahan–bahan yang diperlukan untuk membangun, memelihara dan meningkatkan kemampuan tubuh melawan penyakit. Fungsi yang beragam itu dimungkinkan oleh peranan zat gizi yang terkandung dalam pangan. Jenis zat gizi dalam pangan adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Semua makanan mengandung satu atau lebih zat gizi tersebut dalam jumlah yang beragam. Setiap jenis zat gizi mempunyai fungsi khusus. Inilah sebabnya keragaman pangan penting bagi kesehatan. Kita semua membutuhkan zat gizi, yang disediakan oleh beragam pangan, untuk semua proses tubuh kita. Terlalu banyak dan kekurangan pangan atau ketidakseimbangan dalam mengkonsumsi pangan dapat membuat kesehatan memburuk dan menyebabkan tubuh beresiko terhadap penyakit kronis seperti obesitas (kegemukan), penyakit jantung, diabetes, dan penyakit malnutisi. Gizi yang baik juga tergantung pada usaha menjaga pangan supaya aman dimakan dan mempertahankan kualitas gizinya.
Masalah gizi dan hal-hal yang berhubungan dengan perbaikan gizi banyak berkaitan dengan berbagai masalah, terutama pengadaan dan penyediaan pangan. Di bagian dunia yang sudah berkembang, sebagian besar penduduk mengalami berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh kelebihan berat badan dan obesitas. Sedangkan di bagian lain, miskin gizi buruk masih merupakan masalah utama. Masalah gizi terjadi karena syarat pemberian makanan tidak terpenuhi, baik kurang maupun lebih dari pada yang dibutuhkan untuk umur, jenis kelamin dan kondisi-kondisi tertentu seperti banyaknya aktifitas, suhu lingkungan, maka akan terjadi keadaan malnutrisi. Keadaan gizi kurang (undernutrition) maupun gizi lebih (overnutrition) tidak selalu disebabkan oleh masukan makanan yang tidak cukup atau berlebihan. Keadaan demikian dapat juga terjadi oleh kelainan dalam tubuh sendiri seperti ganggguan pencernaan, absorbsi, utilisasi, ekskresi dan sebagainya. Gizi buruk tidak hanya berdampak pada kesehatan seseorang secara pribadi, tapi juga mengurangi kemampuan masyarakat untuk keluar dari kemiskinan. Gizi buruk mengurangi kemampuan seseorang untuk bekerja dan juga mengurangi kemampuan anak-anak untuk belajar disekolah – sering tidak kesekolah karena sakit – mengurangi tingkat kesehatan dan menjadi terlalu lelah untuk bekerja dan belajar dengan baik. Diperkirakan bahwa gizi buruk dapat menghabiskan biaya suatu Negara sebanyak 2-3% dari produk domestic bruto (“Repositioning Nutrition as Central to Development: A Strategy for Large-Scale Action,” published by the World Bank in 2006).
C. MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG
Salah satu akibat kurang pangan adalah kelaparan. Kelaparan dapat mengakibatkan kurang gizi. Masyarakat mengenal kurang gizi sebagai busung lapar, meskipun dalam kesehatan dibedakan dalam kwashiorkor, maramus, kwashiorkor-marasmus atau hanya kurang gizi.
Di Indonesia, salah satu Negara di Asia Tenggara, walaupun tingkat kemiskinan mulai berkurang, namun tetap ada daerah-daerah dimana kurang gizi masih menjadi masalah utama. Gizi kurang terjadi karena defisiensi atau ketidakseimbangan energi/zat gizi. Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah utama gizi kurang yaitu kurang gizi makro dan kurang gizi mikro. Masalah gizi makro adalah masalah gizi yang utamanya disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan energi dan protein. Kekurangan zat gizi makro umumnya disertai dengan kekurangan zat gizi mikro.

Meskipun kemajuan yang berarti telah dicapai, jutaan orang masih menderita kelaparan dan kekurangan gizi dewasa ini
Populasi penduduk dunia tumbuh sangat cepat. Pada tahun 1999, PerserikatanBangsa–Bangsa (PBB) memperkirakan jumlah penduduk dunia lebih dari 6 milyar. Diperkirakan akan ada tambahan sebanyak 2 milyar dalam kurun waktu 25 tahun mendatang, yang kebanyakan akan terjadi di negara yang sekarang ini menghadapi masalah paling besar dalam hal penyediaan pangan bagi penduduknya. Meskipun populasi dunia meningkat secara dramatis (lebih dari 70 persen) selama 30 tahun terakhir, kemajuan pesat telah dicapai dalam hal peningkatan kuantitas dan kualitas persediaan pangan global dan perbaikan status gizi penduduk. Di negara berkembang, yang populasi penduduknya meningkat hampir dua kali lipat selama periode ini, jumlah penduduk yang mengalami kekurangan gizi kronis telah dapat dikurangi menjadi setengahnya (dari 36 menjadi 18 persen pada tahun 1995–1997). Namun demikian, 790 juta orang – satu dari lima orang di negara berkembang masih tidak memperoleh cukup pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi dasar sehari–hari; meskipun beberapa negara telah mencapai kemajuan pesat, kelaparan terus meningkat di bagian dunia yang lain, khususnya di negara yang paling mengalami kesulitan dalam hal penyediaan pangan bagi rakyatnya. Akses terhadap penyediaan beranekaragam pangan yang berkualitas dalam jumlah yang cukup dan aman merupakan masalah serius di banyak negara, bahkan di negara yang persediaan pangannya mencukupi di tingkat nasional.

D. PENYEBAB TIMBULNYA MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG
Penyebab tingginya angka kurang gizi di Indonesia cukup kompleks. Terkadang masalahnya adalah kurangnya makanan yang tersedia atau pilihan untuk tidak mengkonsumsi variasi makanan dengan nilai gizi yang cukup.
Faktor yang mempengaruhi masalah pangan :
1. Goncangan Pasar Dunia
2. Daya saing dan Kebijakan perdagangan
3. Goncangan variabel makro ekonomi (nilai tukar, suku bunga, inflasi dll)
4. Gangguan produksi : (a) aspek fisik (kekeringan, banjir, gempa, hama dan penyakit dll), (b) aspek ekonomi (ketersediaan dan harga sarana produksi,
produk substitusi),
5. Masalah politik, keamanan dan konflik sosial
6. Gangguan permintaan (daya beli, produk substitusi, industri yang
menggunakan bahan baku pangan)
7. Buffer stock Management
8. Distribusi pangan
9. Struktur pasar
10.Fluktuasi musiman produksi dan komsumsi
11.Spekulasi perdagangan
12.Kualitas produk pangan
13.Sistem infomasi
14.Kelembagaan dan koordinasi
Krisis Pangan dan Ekonomi Tingkatkan Jumlah Penduduk Kelaparan
Krisis pangan di negara-negara miskin ditambah dengan krisis ekonomi global menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk yang kelaparan, dengan lebih dari satu miliar orang kekurangan pangan tahun ini, FAO memperkirakan 1,02 miliar orang kurang makan di seluruh dunia pada 2009. “Ini merupakan lebih banyak orang yang kelaparan sejak 1970.
Jumlah orang kelaparan mencapai puncaknya satu miliar untuk pertama kali sejak 1970, tetapi proporsi lebih kecil dari jumlah penduduk dunia, yang sekarang hampir tujuh miliar jiwa dibandingkan dengan kurang empat miliar empat dasawarsa lalu.
Penduduk terbesar yang kurang makan adalah di wilayah Asia-Pasifik yaitu 642 juta orang disusul Sub-Sahara Afrika 265 juta, Amerika Latin 53 juta orang. Sekitar 15 juta orang mengalami kelaparan di dunia maju.
Krisis keuangan menyebabkan menurunnya bantuan asing dan investasi di negara-negara miskin serta pengiriman uang dari keluarga yang bekerja di negara-negara kaya,

Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk. Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu :
(1) Kurangnya asupan gizi dari makanan.
Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi Kadang kadang bencana alam, perang, maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi.
(2) Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi.
Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik. Menjadi penyebab terpenting kedua kekurangan gizi, apalagi di negara negara terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan kebersihan / personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit tertentu, khususnya infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat tinggi. Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi.
Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk yaitu:
(1) Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat;
(2) Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan anak;
(3) Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 faktor penyebab gizi buruk pada balita, yaitu:
(1) Keluarga miskin;
(2) Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak;
(3) Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernapasan dan diare.

Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan kedalam tiga bidang yaitu:
(a) produksi pangan dan distribusi pangan,
Enam kelompok faktor dibawah bidang produksi dan distribusi pangan yang terdiri dari: tenaga kerja, pertanian, ekonomi, demografi, budaya, dan kesehatan dapat mengakibatkan penurunan, ketidakseimbangan atau kelebihan konsumsi zat gizi. Faktor demografi dan social ekonomi sangat menentukan perubahan konsumsi makanan
(b) pemanfaatan pangan.
Pola makan yang salah
Suatu studi “positive deviance” mempelajari mengapa dari sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi buruk, padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk.
Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan anak anak daging, telur, santan dll) , hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup
Faktor penyebab: (1) Faktor sosial, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak. (2) Faktor kemiskinan, rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar sering kali tidak bisa dipenuhi. (3) Laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan. (4) Infeksi, disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik

Penyebab gizi buruk di daerah pedesaan atau daerah miskin lainnya sering disebut malnutrisi primer, yang disebabkan karena masalah ekonomi dan rendahnya pengetahuan. Masyarakat di daerah desa umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan sebagian lagi memiliki kesadaran yang rendah tentang pentingnya variasi makanan serta pentingnya asupan gizi yang pas (gizi seimbang), terutama untuk anak-anak. Nasi adalah makanan pokok dan didaerah yang miskin, masyarakat sangat tergantung, lebih mengutamakan rasa kenyang namun menu kurang variatif untuk kecukupan gizi. Di daerah lainnya, bahkan nasi juga jarang didapat, perubahan iklim, cuaca yang sulit diprediksi dan bencana alam mempengaruhi pertumbuhan tanaman, dan banyak keluarga yang tidak mampu membeli makanan jika tanaman mereka, satu-satunya sumber pendapatan mereka – gagal. Sanitasi yang buruk juga merupakan masalah umum di daerah dengan ketersediaan air yang terbatas dan berpengaruh terhadap infeksi usus dan kurang gizi – dapat menyebabkan diare.
Penyebab utama kasus gizi buruk di kota tampaknya bukan karena masalah ekonomi atau kurang pengetahuan. Kasus gizi buruk khususnya pada anak di kota besar biasanya didominasi oleh malnutrisi sekunder. Malnutrisi sekunder adalah gangguan peningkatan berat badan atau gagal tumbuh (failure to thrive) yang disebabkan karena karena adanya gangguan di sistem tubuh anak. Selain itu, masalah kurang gizi di kota juga karena pola makan dan gaya hidup yang salah. Banyak masyarakat menengah atas yang melakukan pola makan yang salah seperti bulimia dan anorexia, dalam rangka untuk menjaga penampilannya. Selain itu, sebagian masyarakat kota yang terlalu disibukkan dengan berbagai aktivitas sehingga mereka cenderung menyukai makanan cepat saji (fast food), yang biasanya kurang aman dikonsumsi.

E. BEBERAPA TANDA DAN GEJALA GANGGUAN GIZI
1. Malnutrisi Primer
Gejala klinis Kurang Energi Protein (KEP) yaitu: Pertumbuhan linier mengurang atau terhenti; Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, dan ada kalanya beratnya bahkan menurun; Ukuran lingkar lengan atas menurun; Maturasi tulang terhambat; Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun; Tebal lipat kulit normal atau mengurang; Anemia ringan; Aktivitas dan perhatian berkurang; Kelainan kulit maupun rambut jarang ditemukan, tetapi adakalanya dijumpai.
Kwashiorkor disebabkan karena kurang protein dalam pangan, sedang zat pangan pemberi tenaga . Gejala klinis Kwashiorkor, yaitu: Penampilannya seperti anak yang gemuk (suger baby) jika dietnya mengandung cukup energy disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh lainnya, terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi; Pertumbuhan terganggu, berat badan dibawah 80% dari baku Harvard persentil 50 walaupun terdapat edema, begitu pula tinggi badannya terutama jika KEP sudah berlangsung lama; Perubahan mental sangat mencolok, banyak menangis, dan stadium lanjut mereka sangat apatis; Edema baik yang ringan maupun yang berat ditemukan pada sebagian besar penderita kwashiorkor; Atrofi otot sehingga penderita tampak selalu lemah dan berbaring terus menerus; Gejala saluran pencernaan seperti anoreksia yang berat penderita menolak segala macam makanan, hingga adakalanya makanan hanya dapat diberikan melalui sonde lambung. Diare tampak pada sebagian besar penderita, dengan feses yang cair dan banyak mengandung asam laktat karena mengurangnya produksi lactase dan enzim disaharidase lain; rambut yang mudah dicabut sedangkan pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala yang kusam, kering, halus, jarang, dan berubah warnanya.rambut alispun menunjukkan perubahan demikian, akan tetapi tidak demikian dengan rambut matanya yang justru memanjang; Perubahan kulit yang khas bagi penderita kwashiorkor. Kelainan kulit berupa titik-titik merah yang menyerupai petechia, berpadu dengan bercak yang lambat laun menghitam. Setelah bercak hitam mengelupas, maka terdapat bagian-bagian merah yang dikelilingi oleh batas-batas yang masih hitam; Hati biasanya membesar; Anemia ringan.
Marasmik/ marasmus adalah bentuk malnutrisi primer karena kekurangan karbohidrat. Gejala klinis Marasmus yaitu: Muka seorang penderita marasmus menunjukkan wajah seorang tua. Anak terlihat sangat kurus (vel over been) karena hilangnya sebagian besar lemak dan otot-ototnya; Perubahan mental yaitu anak mudah menangis, juga setelah mendapat makan oleh sebab masih merasa lapar. Kesadaran yang menurun (apatis) terdapat pada penderita marasmus yang berat; Kulit biasanya kering, dingin, dan mengendor disebabkan kehilangan banyak lemak dibawah kulit dan otot-ototnya; Walaupun tidak kering seperti penderita kwashiorkor,adakalanya tampak rambut yang kering, tipis dan mudah rontok; Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit mengurang; Otot-otot atrofis, hingga tulang-tulang terlihat lebih jelas; Penderita marasmus lebih sering menderita diare atau konstipasi; seringkali terdapat bradikardi; tekanan darah lebih rendah dibandingkan dengan anak sehat seumur; frekuensi pernafasan yang mengurang; ditemukan kadar hemoglobin yang agak rendah.
Kwashiorkor Marasmik
Penyakit kwashiorkor marasmik memperlihatkan gejala campuran antara penyakit marasmus dan kwashiorkor. Makanan sehari-harinya tidak cukup mengandung protein dan juga energy untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan dibawah 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula (Pudjiadi, 2000)
2. Malnutrisi Sekunder
Malnutrisi sekunder adalah gangguan pencapaian kenaikkan berat badan yang bukan disebabkan penyimpangan pemberian asupan gizi pada anak Tetapi karena adanya gangguan pada fungsi dan sistem tubuh yang mengakibatkan gagal tumbuh. Gangguan sejak lahir yang terjadi pada sistem saluran cerna, gangguan metabolisme, gangguan kromosom atau kelainan bawaan jantung, ginjal dan lain-lain. Data penderita gagal tumbuh di Indonesia belum ada, di negara maju kasusnya terjadi sekitar 1-5%. Artinya bila di Indonesia terdapat sekitar 30 juta anak, maka diduga terdapat 300.000 – 500.000 anak yang kurang gizi bukan karena masalah ekonomi. Bila di Jakarta terdapat 1 juta anak maka sekitar 10.000 – 50.000 anak mengalami kurang gizi bukan karena masalah ekonomi. Kasus tersebut bila tidak ditangani dengan baik akan jatuh dalam keadaan gizi buruk. Gambaran yang sering terjadi pada gangguan ini adalah adanya kesulitan makan atau gangguan penyerapan makanan yang berlangsung lama. Tampilan klinis gangguan saluran cerna yang harus dicermati adalah gangguan Buang Air Besar (sulit atau sering BAB), BAB berwarna hitam atau hijau tua, sering nyeri perut, sering muntah, mulut berbau, lidah sering putih atau kotor. Manifestasi lain yang sering menyertai adalah gigi berwarna kuning, hitam dan rusak disertai kulit kering dan sangat sensitif. Berbeda pada malnutrisi primer, pada malnutrisi sekunder tampak anak sangat lincah, tidak bisa diam atau sangat aktif bergerak. Tampilan berbeda lainnya, penderita malnutrisi sekunder justru tampak lebih cerdas, tidak ada gangguan pertumbuhan rambut dan wajah atau kulit muka tampak segar. Ketua Tim Adhoc Program Revitalisasi Posyandu Rini Sutiyoso mengatakan bahwa penderita gizi buruk di Jakarta sering diikuti penyakit penyerta TBC (kompas, 5 Oktober 2006). Tetapi fenomena tersebut harus lebih dicermati. Karena, pada kasus malnutrisi sekunder sering terjadi overdiagnosis tuberkulosis (TB). Overdiagnosis adalah diagnosis TB yang diberikan terlalu berlebihan padahal belum tentu mengalami infeksi TB. Penelitian yang dilakukan penulis didapatkan overdiagnosis pada 42 (22%) anak dari 210 anak dengan gangguan kesulitan makan disertai gagal tumbuh yang berobat jalan di Picky Eaters Clinic Jakarta (Klinik Khusus Kesulitan Makan). Laporan Badan Koordinasi Keluarga Berencana DKI Jakarta, bahwa kasus TB sering menyertai. Overdiagnosis tersebut terjadi karena tidak sesuai dengan panduan diagnosis yang ada. Hal lain adalah kesalahan dalam menginterpretasikan gejala klinis, kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya tes mantoux dan foto polos paru. Sebaiknya bila diagnosis TB meragukan dilakukan konsultasi ke dokter ahli paru anak.

F. PENGARUH MASALAH PANGAN DAN GIZI KURANG TERHADAP KESEHATAN
Zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi, mempunyai nilai yang sangat penting (tergantung dari macam-macam bahan makanannya) untuk memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari bagi para pekerja. Termasuk dalam memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yaitu penggantian sel-sel yang rusak dan sebagai zat pelindung dalam tubuh (dengan cara menjaga keseimbangan cairan tubuh). Proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sehat tentunya memiliki daya pikir dan daya kegiatan fisik sehari-hari yang cukup tinggi (Marsetyo dan Kartasapoetra, 1991). Tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap, sesuai dengan standar kecukupan gizi, namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi. Penduduk yang miskin tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam jumlah yang cukup. Mereka menderita lapar pangan dan gizi, mereka menderita gizi kurang. (Sri Handajani, 1996). Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu yang cukup lama. Bila kekurangan itu ringan, tidak akan dijumpai penyakit defisiensi yang nyata, tetapi akan timbul konsekwensi fungsional yang lebih ringan dan kadang-kadang tidak disadari kalau hal tersebut karena factor gizi (Ari Agung, 2002). Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya tubuh melakukan pemeliharaan dengan mengganti jaringan yang sudah aus, melakukan kegiatan, dan pertumbuhan sebelum usia dewasa. Agar tubuh dapat menjalankan ketiga fungsi tersebut diperlukan sejumlah gizi setiap hari, yang didapat melalui makanan. Diperkirakan 50 macam senyawa dan unsur yang harus diperoleh dari makanan dengan jumlah tertentu setiap harinya. Bila jumlah yang diperlukan tidak terpenuhi maka kesehatan yang optimal tidak dapat dicapai (Ari Agung, 2002). Kekurangan zat gizi, khususnya energi dan protein, pada tahap awal menimbulkan rasa lapar dalam jangka waktu tertentu berat badan menurun yang disertai dengan kemampuan (produktivitas) kerja. Kekurangan yang berlanjut akan mengakibatkan keadaan gizi kurang dan gizi buruk. Bila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang mencukupi akhirnya akan mudah terserang infeksi (penyakit) (Drajat Martianto, 1992).
Akibat tidak cukup Pangan dan Gizi terhadap kesehatan yang sering menimpa penduduk terutama anak balita di Indonesia meliputi :
1. Gangguan Kesehatan akibat Kekurangan Energi dan Protein (KEP)
Hasil penelitian di berbagai tempat dan di banyak negara menunjukkan bahwa penyakit gangguan gizi yang paling banyak ditemukan adalah gangguan gizi akibat kekurangan energi dan protein (KEP). Dalam bahasa Inggris penyakit ini disebut Protein Calorie Malnutrition atau disingkat PCM. Ada juga ahli yang menyebutnya sebagai Enery Protein Malnutrition atau EPM, namun artinya sama.
Ada dua bentuk KEP yaitu marasmus dan kwashiorkor. Baik marasmus maupun kwashiorkor keduanya disebabkan oleh kekurangan protein. Akan tetapi pada marasmus di samping kekurangan protein terjadi juga kekurangan energi. Sedangkan pada kwashiorkor yang kurang hanya protein, sementara kalori cukup. Marasmus terjadi pada anak usia yang sangat muda yaitu pada bulan pertama setelah lahir, sedangkan kwashiorkor umumnya ditemukan pada usia 6 bulan sampai 4 tahun. Ada empat ciri yang selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor yaitu sebagai berikut :
a. Adanya oedema pada kaki, tumit dan bagian tubuh lain seperti bengkak karena ada cairan tertumpuk.
b. Gangguan pertumbuhan badan. Berat dan panjang badan anak tidak dapat mencapai berat dan panjang yang semestinya sesuai dengan umurnya.
c. Perubahan aspek kejiwaan, yaitu anak kelihatan memelas, cengeng, lemah dan tidak ada selera makan.
d. Otot tubuh terlihat lemah dan tidak berkembang dengan baik walaupun masih tampak adanya lapisan lemak di bawah kulit.
Pada penderita marasmus biasanya ditemukan juga tanda-tanda defisiensi gizi yang lain seperti kekurangan vitamin C, vitamin A, dan zat besi serta sering juga anak menderita diare.
2. Gangguan Kesehatan Akibat Kekurangan Vitamin A (KUA)
Vitamin A diperlukan untuk penglihatan. Vitamin tersebut merupakan bagian penting dari penerima cahaya dalam mata. Selain itu vitamin A juga diperlukan untuk mempertahankan jaringan ari dalam keadaan sehat. Kulit, pinggiran dan penutup berbagai bagian tubuh, seperti kelopak mata, mata, hidung, mulut, paru-paru dan tempat pencernaan, kesemuanya dikenal sebagai jaringan ari.
Vitamin A juga mempunyai beberapa fungsi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan vitamin A pertumbuhan menjadi terhambat dan rangka tubuh berhenti tumbuh.
Tanda awal dari kekurangan vitamin A adalah tureunnya kemampuan melihat dalam cahaya samar. Penderita sama sekali tidak dapat melihat apabila memasuki ruangan yang agak gelap secara tiba-tiba. Penyakit ini umumnya diderita oleh anak-anak. Terjadinya kekurangan vitamin A adalah sebagai akibat berbagai sebab seperti berikut ini :
a. Tidak adanya cadangan vitamin A dalam tubuh anak sewaktu lahir karena semasa dalam kandungan, ibunya kurang sekali mengkonsumsi makanan sumber vitamin A.
b. Kadar Vitamin A dalam air susu ibu (ASI) rendah. Hal ini disebabkan konsumsi vitamin A ibu yang rendah pada masa menyusui.
c. Anak diberi makanan pengganti ASI yang kadar vitamin A-nya rendah.
d. Anak tidak menyukai bahan makanan sumber vitamin A terutama sayursayuran.
e. Gangguan penyerapan vitamin A oleh dinding usus oleh karena berbagai sebab seperti rendahnya konsumsi lemak atau minyak.

Kekurangan vitamin A dapat meyebabkan cacat menetap pada mata (buta) yang tidak dapat disembuhkan. Xerophthalmia sebagai akibat kekurangan vitamin A merupakan penyebab kebutaan tertinggi, dan yang memprihatinkan adalah penderitanya justru anak-anak usia balita yang merupakan tunas bangsa.
Penanggulangan kekurangan vitamin A dilakukan selain dengan jalan penyuluhan guna memperbaiki makanan keluarga agar lebih banyak mengkonsumsi bahan makanan sumber vitamin seperti sayuran hijau dan buah-buahan berwarna, dilakukan juga pemberian vitamin dosis tinggi yaitu 200.000 – 300.000 SI kepada anak balita.
3. Gangguan Kesehatan Akibat Kekurangan Zat Besi (Anemia Gizi Besi =AGB)
Besi adalah mineral mikro yang mempunyai peran penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Mineral tersebut terdapat dalam darah dan semua sel tubuh. Zat besi dalam darah merah berada sebagai bagian dari hemoglobin dan pigmen sel merah. mineral tersebut bertindak sebagai pembawa oksigen dan karbondioksida.
Jika tidak terdapat cukup besi untuk memenuhi kebutuhan tubuh, maka jumlah hemoglobin dalam sel darah merah berkurang dan keadaan tidak sehat timbul yang dikenal sebagai anemia gizi. Rendahnya kadar hemoglobin dalam darah dilihat apabila bagian kelopak mata penderita terlihat berwarna pucat. Kadar baku hemoglobin dalam darah yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia gizi atau tidak.
Zat besi terutama banyak sekali hanya terdapat dalam sayur-sayuran. Demikian juga asam folat, sedang bitamin B12 hanya terdapat dalam bahan makanan yang berasal dari hewan. Pencegahan anemia gizi selain dengan mengkonsumsi bahan makanan sumber zat besi juga dapat dilakukan dengan jalan memberikan zat besi dalam bentuk tablet kepada wanita hamil terutama dalam masa tiga bulan terakhir menjelang anak lahir.
4. Gangguan Kesehatan Akibat Kekurangan Iodium
Kekurangan iodium akan mengakibatkan membesarnya kelenjar gondok. karena itu, penyakit yang timbul akibat kekurangan iodium disebut penyakit gondok. Karena penyakit pembesaran kelenjar gondok ini ditemukan di daerah-daerah tertentu untuk jangka waktu yang lama, maka disebut penyakit gondok endemik. Di daerah penyakit gondok endemik, pembesaran kelenjar gondok dapat terjadi pada semua umur, bahkan seorang ibu yang menderita pembesaran gondok akan melahirkan bayi yang juga menderita kekurangan iodium dan jika tidak diobati maka pada usia satu tahun sudah akan terjadi pembesaran kelenjar gondoknya.
Kejadian pembesaran kelenjar gondok terbanyak ditemukan pada usia antara 9 sampai 13 tahun pada anak laki-laki dan antara usia 12 sampai 18 tahun pada anak perempuan. Pada usia dewasa jarang sekali terjadi pembesaran kelenjar gondok kecuali pada wanita yang sering ditemukan pembesaran kelenjar gondoknya baru timbul setelah usia 19 atau 20 tahun. Setelah mencapai usia puber, kelenjar gondok yang timbul pada usia kanak-kanak itu cepat sekali membesar dan dapat berubah menjadi bentuk nodula. Akan tetapi yang mengkhawatirkan adalah kemungkinan terjadinya manusia kerdil atau kretinisme di samping gangguan perkembangan otak yang membawa akibat gangguan mental.
Terjadinya kekurangan iodium terutama akibat rendahnya kadar iodium dalam tanah sehingga air dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di daerah itu juga rendah kadar iodiumnya. Di samping itu beberapa jenis makanan mengandung zat yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok dan disebut zat goiterogen. Zat tersebut ditemukan dalam sayuran dari jenis Brassica seperti kubis, lobak, kol kembang. Juga zat tersebut ditemukan dalam kacang kedelai, kacang tanah dan obat-obatan tertentu. Zat goiterogen tersebut dapat menghalangi pengambilan iodium oleh kelenjar gondok sehingga konsentrasi iodium dalam kelenjar gondok sangat rendah. Selain itu zat tersebut juga dapat menghambat perubahan iodium dari bentuk anorganik menjadi bentuk organik sehingga menghambat pembentukan hormon tiroksin.
Masih ada beberapa faktor lain yang diduga dapat mengakibatkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok, seperti air minum yang tercemar, kadar zat kapur dalam air yang terlalu tinggi dan sebagainya.

Dengan diketahuinya penyebab terpenting dari penyakit gondok itu maka usaha-usaha pencegahan telah dapat dilakukan dengan mudah. Pada tahun 1833 dilakukan percobaan dengan mencampurkan iodium ke dalam garam kapur dan baru dalam tahun 1924 usaha pencegahan penyakit gondok ini dengan menggunakan garam beriodium (iodized salt) secara besar-besaran dilakukan di Amerika Serikat. Jenis iodium yang digunakan dalam pembuatan garam beriodium adalah persenyawaan iodat kalium (KIO3) dengan kadar satu bagian iodium dicampur dengan 10.000 – 200.000 bagian garam. Di Indonesia pembuatan garam beriodium ini dilakukan dengan jalan memasukkan 3,3 mg larutan KI ke dalam tiap bata garam (brickets) dan dengan cara ini diperoleh garam beriodium dengan kadar 20 ppm.

BAB III
PENUTUP

Solusi Kurang Pangan dan Gizi

1. Solusi Kurang Pangan
a. Perbaikan dan pemerataan ekonomi Negara

Salah satu factor penyebab timbulnya kurang pangan adalah buruknya ekonomi Negara yang menyebabkan tidak meratanya perekonomian Negara. Hal ini menyebabkan rendahnya daya beli pangan untuk kalangan bawah. Pemerintah harus lebih cermat menangani masalah ini, karena masalah perekonomian yang berlarut – larut ini akan berujung pada kematian. Harus segera dilakuakn pemerataan ekonomi dengn cara mencptakan lapangan kerja seluas – luasnya, melenyapkan praktek KKN (koropsi, kolusi dan nepotisme) dan lain sebagainya.
b. Perubahan lebih baik kebijakan pemerintah tentang pangan

Defisit pangan yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan resultante kekeliruan kebijakan pangan pemerintah yang lalu. Diawali kemiskinan yang berhulu kebijakan ekonomi diskriminatif beraroma korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), merapuhkan fondasi ekonomi Indonesia karena yang dikembangkan dan diperlakukan sebagai “anak emas” adalah industri berteknologi tinggi (pesawat terbang) yang sarat dengan inefficient. Tetapi, kebijakan keliru ini serta merta diamini kaum konglomerat, birokrat, dan sebagian ekonom karena menguntungkan kelompoknya. Di sisi lain, sektor pertanian sebagai pemasok bahan pangan dan gizi dianggap tidak prestisius, produknya tidak marketable dan return of investment-nya rendah.
Padahal, dalam tiap wacana pembangunan ekonomi nasional acap disebut, pertanian adalah leading sector. Kenyataannya, sektor pertanian diposisikan sebagai “ban serap” pendukung sektor industri, bukan mesin penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Ini tercermin dari kredit ke sektor pertanian yang jumlahnya relatif kecil dari tahun ke tahun, penghapusan subsidi pupuk, serta pengadaan sarana dan prasarana pertanian yang tidak memadai.
Perlakuan diskriminatif ini melahirkan krisis pangan berkepanjangan dan menjadi bukti empiris tak terbantahkan bahwa kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertanian telah gagal menciptakan sistem ketahanan pangan yang tangguh dan berkelanjutan (sustainable food security).
Mencermati ketersediaan dan produksi pangan yang belakangan cenderung menurun, upaya mewujudkan ketahanan pangan makin penting dilakukan. Apalagi kini Indonesia tercatat tidak hanya sebagai importir beras terbesar di dunia tetapi juga importir gula, kedelai, jagung, daging, dan lain-lain yang menghabiskan devisa milyaran dollar AS. Jika tidak ditemukan cara untuk meningkatkan produksi, Indonesia akan menghadapi malapetaka di bidang pangan pada masa resesi ekonomi global ini. Untuk itu harus ada program jangka pendek dan jangka panjang yang bisa dilakukan berkesinambungan. Langkah strategis yang harus dilakukan dalam program jangka pendek adalah memperbaiki manajemen pangan (food management) agar masyarakat di seluruh wilayah Indonesia memperoleh pangan yang cukup dan merata dengan mutu yang baik dan tingkat harga yang terjangkau.

c. Peningkatan produksi dan pasokan, manajemen cadangan pangan,
insentif produksi,diversifikasi pangan, sistem informasi pangan.

2. Solusi kurang gizi
a. Perbaikan dan pemerataan ekonomi
Sama halnya seperti kurang pangan, penyebab utama kurang gizi adalah buruknya perekonomian Negara. Sehingga perlu adanya perubahan – perubahan infrastuktur kepemerintahan dan kebijakan pemerintah untuk perekonomian lebih baik. Agar adanya pemerataan ekonomi dan dapat meningkatkan asset Negara yang akan digunakan untuk perbaikan gizi.

b. Diadakannya penyuluhan tentang gizi
Kurang gizi bukan hanya disebabkan oleh factor ekonomi, orang yang mampu pun dapat mengalaminya. Hal ini disebabkan minimya pengetahuan tentang gizi. Untuk itu perlu diadakannya penyuluhan – penyuluhan tentang gizi bagi semua lapisan masyarakat agar masyarakat tahu tentang pentingnya gizi bagi kesehatan.

c. Perbaikan Gizi oleh pemerintah.
Perlu diadakannya program – program yang menuju pada perbaikan gizi. Contohnya pemberian susu gratis untuk sekolah – sekolah kaum menengah kebawah.

d. Aplikasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) adalah cara pengelolaan informasi pangan dan gizi, untuk menentukan tindakan sesuai dengan keadaan setempat. Dengan SKPG diharapkan adanya informasi pangan dan gizi secara tepat dan cepat, sehingga memungkinkan adanya tindakan penanggulangan secara cepat dan tepat pula. Dengan demikian dampak negatif masalah pangan dan gizi terhadap kualitas sumberdaya manusia dapat dihindari.

e. Mengadakan Pencegahan pencegahan gizi buruk
Beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: (1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun. (2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.(3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter. (4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. (5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.

PENUTUP
a. Kesimpulan
1. Pangan adalah hal yang sangat penting untuk kehidupan. Supaya sehat dan cukup gizi, kita harus memperoleh pangan yang cukup beragam, berkualitas serta aman.Oleh karena itu kurang pangan dapat mempengaruhi kesehatan bahkan menyebabkan kematian.
2. Faktor yang mempengaruhi pangan kurang:
1. Goncangan Pasar Dunia
2. Daya saing dan Kebijakan perdagangan
3. Goncangan variabel makro ekonomi (nilai tukar, suku bunga,inflasi dll)
4.Gangguan produksi : (a) aspek fisik (kekeringan, banjir, gempa, hama dan penyakit dll), (b) aspek ekonomi (ketersediaan dan harga sarana produksi, produk substitusi),
5. Masalah politik, keamanan dan konflik sosial
6. Gangguan permintaan (daya beli, produk substitusi, industri yang menggunakan bahan baku pangan)
7. Buffer stock Management
8. Distribusi pangan
9. Struktur pasar
10.Fluktuasi musiman produksi dan komsumsi
11.Spekulasi perdagangan
12.Kualitas produk pangan
13.Sistem infomasi
14.Kelembagaan dan koordinasi
3. Solusi pangan kurang
a.Perbaikan dan pemerataan ekonomi Negara
b. Perubahan lebih baik kebijakan pemerintah tentang pangan
c. Peningkatan produksi dan pasokan, manajemen cadangan pangan,
insentif produksi,diversifikasi pangan, sistem informasi pangan.

5. Gizi pangan adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vtamin, dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu gizi sangatalah mempengaruhi kesehatan. . Kekurangan gizi dapat menyebabkan berbagai penyakit.
6.Faktor – factor penyebab gizi kurang.
1.Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi.
2.Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan anak;
3. Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai
4. Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak;
5. Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernapasan dan diare.
6. Pola makan yang salah
7. Laju pertumbuhan penduduk
8. Kurangnya asupan gizi dari makanan

7.Solusi gizi buruk
Mengadakan Pencegahan pencegahan gizi buruk
f. Aplikasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
g. Perbaikan Gizi oleh pemerintah.
h. Perbaikan dan pemerataan ekonomi
i. Diadakannya penyuluhan tentang gizi

2.Saran
Pemerintah harus lebih cermat dalam menangani masalah pangan dan gizi kurang yang sudah lama menjamur di Indonesia. Pemerintah juga harus mengadakan program – program baru dalam memberantas pangan dan gizi kurang.

DAFTAR PUSTAKA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Januari 2010
S S R K J S M
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Komentar Terbaru

ceeva di Reaksi maiLLard puna ceev…
%d blogger menyukai ini: